Kericuhan Warnai Arena Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Jombang Akibat Aksi Protes Massa

JOMBANG – Puluhan massa nekat menerobos barisan pengamanan ketat di depan Gedung Serba Guna (GSG) Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, saat agenda besar Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) berlangsung. Aksi saling dorong antara pengunjuk rasa dan petugas keamanan tidak terhindarkan ketika kelompok tersebut menuntut akses masuk untuk menyampaikan aspirasi mereka secara langsung kepada para petinggi organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut. Situasi yang semula tenang berubah menjadi mencekam ketika massa mulai meneriakkan yel-yel perlawanan dan mencoba merubuhkan pagar pembatas yang dijaga ketat oleh personel Banser dan kepolisian setempat.
Ketegangan ini bermula dari ketidakpuasan sejumlah pihak terhadap proses registrasi dan verifikasi peserta yang mereka anggap tidak transparan. Para demonstran mengklaim bahwa banyak utusan daerah yang sah justru kehilangan hak suaranya akibat kendala administratif yang sengaja diciptakan. Meskipun panitia penyelenggara telah berupaya melakukan mediasi di luar area gedung, massa tetap bersikeras merangsek masuk ke dalam area inti muktamar. Peristiwa ini menambah catatan panjang dinamika internal NU yang sering kali memanas setiap kali pemilihan nakhoda baru PBNU mendekat.
Pemicu Kericuhan dan Tuntutan Massa di Lapangan
Berdasarkan pantauan di lokasi kejadian, massa menuding adanya upaya sistematis untuk membatalkan mandat beberapa pengurus cabang. Hal ini memicu gelombang protes yang bermuara pada aksi paksa masuk ke arena utama. Berikut adalah poin-poin utama yang menjadi pemicu kemarahan massa di lapangan:
- Dugaan diskriminasi terhadap utusan dari luar pulau Jawa dalam proses verifikasi peserta.
- Ketidakjelasan mekanisme pengambilan keputusan yang dianggap terlalu sentralistik oleh panitia pusat.
- Tuntutan untuk mengembalikan kedaulatan cabang-cabang dalam menentukan arah kepemimpinan PBNU periode mendatang.
- Kekecewaan terhadap pengamanan yang dianggap terlalu represif terhadap warga nahdliyin sendiri.
Aparat keamanan akhirnya menambah personel untuk menstabilkan keadaan agar persidangan di dalam gedung tetap berjalan sesuai jadwal. Meskipun sempat terhenti sejenak, rangkaian acara muktamar berlanjut dengan penjagaan yang jauh lebih ketat dari sebelumnya. Panitia mengimbau semua pihak untuk mengedepankan cara-cara santun sesuai dengan tradisi pesantren dalam menyelesaikan perselisihan.
Analisis Dinamika Internal dan Marwah Organisasi
Muktamar NU bukan sekadar ajang pemilihan ketua umum, melainkan representasi demokrasi kaum sarungan yang memiliki dampak nasional. Kericuhan yang terjadi di Jombang ini mencerminkan adanya sumbatan komunikasi antara pengurus pusat dan akar rumput. Dalam konteks organisasi, gesekan seperti ini menunjukkan betapa tingginya antusiasme serta kepentingan yang bermain di dalam tubuh Nahdlatul Ulama. Sejarah mencatat bahwa perbedaan pendapat adalah hal lumrah di NU, namun jika berujung pada kekerasan fisik, maka marwah organisasi sedang dipertaruhkan.
Para pengamat sosial melihat bahwa Muktamar ke-35 ini menjadi ujian berat bagi netralitas dan integritas panitia. Jika dibandingkan dengan pelaksanaan Muktamar sebelumnya di Lampung yang juga sempat diwarnai debat panas, kejadian di Jombang kali ini terasa lebih emosional karena terjadi di tanah kelahiran salah satu pendiri NU. Penyelesaian konflik ini memerlukan pendekatan Tabayyun (klarifikasi) yang mendalam agar tidak terjadi perpecahan yang lebih luas di tingkat struktural maupun kultural.
Untuk menjaga stabilitas, kepemimpinan NU ke depan harus mampu merangkul semua faksi yang bertikai. Transformasi organisasi menuju era digital juga harus dibarengi dengan transparansi sistem pemilihan agar kejadian serupa tidak terulang di masa depan. Muktamar seharusnya menjadi oase pemikiran bagi umat, bukan panggung perebutan kekuasaan yang mengesampingkan nilai-nilai ukhuwah islamiyah.


