Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf Juluki Amerika Serikat Setan Akibat Insiden Berdarah

TEHERAN – Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, melontarkan kecaman luar biasa keras terhadap pemerintah Amerika Serikat. Pernyataan provokatif ini muncul setelah sebuah serangan mematikan menghantam sebuah pesta pernikahan di wilayah selatan Iran. Ghalibaf secara eksplisit menyebut negara adidaya tersebut sebagai ‘Setan’ karena menganggap Washington berada di balik instabilitas keamanan yang melanda negaranya. Narasi agresif ini mencerminkan eskalasi retorika yang kian tajam di tengah kebuntuan diplomatik yang telah berlangsung selama puluhan tahun.
Pemerintah Teheran seringkali mengarahkan telunjuk kepada campur tangan asing setiap kali terjadi gangguan keamanan domestik. Meskipun investigasi terperinci mengenai dalang di balik serangan pesta pernikahan tersebut masih berlangsung, Ghalibaf tidak ragu untuk menarik kesimpulan politik. Ia menegaskan bahwa jejak kaki ‘Setan Besar’—julukan tradisional Iran untuk AS—terlihat jelas dalam upaya merusak tatanan sosial masyarakat melalui aksi-aksi teror yang tidak berprikemanusiaan.
Kronologi dan Kecaman Mohammad Bagher Ghalibaf
Insiden yang memicu kemarahan publik ini terjadi saat warga sipil tengah merayakan pesta pernikahan yang seharusnya penuh sukacita. Namun, kebahagiaan tersebut berubah menjadi duka mendalam saat ledakan atau serangan bersenjata menghantam kerumunan. Mohammad Bagher Ghalibaf memandang insiden ini bukan sekadar kriminalitas biasa, melainkan agenda geopolitik yang bertujuan melemahkan moral bangsa Iran. Selain itu, ia mendesak aparat keamanan untuk segera merespons ancaman ini dengan tindakan yang setimpal demi melindungi kedaulatan negara.
- Serangan menyasar kerumunan warga sipil di pesta pernikahan wilayah selatan Iran.
- Ghalibaf menghubungkan serangan tersebut dengan kebijakan luar negeri Amerika Serikat.
- Pemerintah Iran menyerukan persatuan nasional untuk menghadapi tekanan eksternal.
- Retorika ‘Setan’ kembali digunakan untuk membangkitkan sentimen anti-Barat di kalangan masyarakat.
Dampak Retorika Setan dalam Diplomasi Regional
Penggunaan istilah ‘Setan’ oleh pejabat tinggi seperti Ghalibaf tentu membawa implikasi serius terhadap peta politik di Timur Tengah. Ketika komunikasi diplomatik antara Teheran dan Washington berada di titik nadir, pernyataan semacam ini justru semakin memperlebar jurang pemisah. Para analis berpendapat bahwa Iran sedang berupaya mengonsolidasi kekuatan internal dengan menciptakan musuh bersama demi mengalihkan perhatian dari isu-isu ekonomi dalam negeri yang sedang melanda. Terlebih lagi, serangan terhadap infrastruktur sipil atau acara sosial seperti pernikahan sering kali menjadi katalisator bagi sentimen nasionalisme yang radikal.
Pihak Amerika Serikat sendiri secara konsisten membantah keterlibatan langsung dalam serangan teror di tanah Iran. Namun, bagi elite politik di Teheran, sanksi ekonomi dan dukungan AS terhadap rival regional sudah cukup menjadi bukti keterlibatan ‘secara moral dan logistik’. Hubungan ini nampaknya akan tetap terjebak dalam siklus saling tuduh tanpa ada solusi konkret dalam waktu dekat. Fenomena ini juga mengingatkan kita pada artikel sebelumnya mengenai ketegangan nuklir Iran yang juga memicu retorika serupa dari kedua belah pihak.
Analisis Ketegangan Abadi Teheran dan Washington
Secara historis, penggunaan istilah ‘Setan Besar’ pertama kali dipopulerkan oleh Ayatollah Khomeini setelah Revolusi Islam 1979. Pernyataan Ghalibaf menunjukkan bahwa ideologi tersebut masih menjadi pilar utama dalam kebijakan luar negeri Iran. Analisis mendalam menunjukkan bahwa serangan di selatan negara tersebut mungkin dilakukan oleh kelompok separatis atau sel tidur organisasi teroris, namun narasi pemerintah akan selalu mengaitkannya dengan dukungan intelijen Barat.
Dalam perspektif jangka panjang, retorika keras ini berfungsi sebagai alat tawar-menawar politik. Dengan menempatkan posisi sebagai korban konspirasi global, Iran berusaha mendapatkan simpati dari negara-negara non-blok lainnya. Di sisi lain, hal ini menyulitkan upaya mediasi yang dilakukan oleh negara-negara Eropa. Kondisi ini memastikan bahwa dinamika di Timur Tengah akan tetap berada dalam tensi tinggi selama kedua belah pihak enggan menurunkan ego diplomasi mereka.


