Andre Rosiade Desak Pemerintah Evaluasi Menyeluruh Kerja Sama Strategis Bandara Kualanamu dengan India

JAKARTA – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Andre Rosiade, secara tegas menyuarakan perlunya audit dan evaluasi mendalam terhadap kemitraan pengelolaan Bandara Internasional Kualanamu di Deli Serdang. Andre menyoroti skema kerja sama antara PT Angkasa Pura II dengan mitra strategis asal India, GMR Airports Consortium, yang tergabung dalam PT Angkasa Pura Aviasi. Politisi Partai Gerindra ini menekankan bahwa pemerintah melalui Kementerian BUMN harus memastikan setiap poin kesepakatan memberikan dampak positif yang konkret bagi perekonomian nasional dan kedaulatan infrastruktur udara Indonesia.
Pernyataan ini muncul menyusul dinamika operasional bandara yang seharusnya mampu bersaing sebagai hub internasional di kawasan Asia Tenggara. Andre Rosiade memandang bahwa transparansi dalam pembagian keuntungan serta realisasi investasi infrastruktur menjadi poin krusial yang tidak boleh terabaikan. Angkasa Pura II perlu membuktikan bahwa kehadiran investor asing benar-benar mendatangkan trafik penumpang internasional baru, bukan sekadar mengalihkan beban pengelolaan aset negara kepada pihak eksternal.
Menakar Keuntungan Nasional dalam Pengelolaan Bandara
Kritik yang terlontar dari Senayan ini menitikberatkan pada sejauh mana efektivitas GMR Airports dalam mengembangkan kapasitas Bandara Kualanamu. Sebagai pintu gerbang utama di wilayah barat Indonesia, Kualanamu memikul beban besar untuk menyaingi dominasi Bandara Changi di Singapura dan Kuala Lumpur International Airport di Malaysia. Andre Rosiade menginginkan adanya laporan berkala yang terbuka mengenai pencapaian target-target strategis yang telah disepakati sejak awal kemitraan tersebut bergulir.
Beberapa poin utama yang menjadi fokus evaluasi menurut pandangan legislatif meliputi:
- Peningkatan jumlah rute penerbangan internasional yang menghubungkan langsung Kualanamu dengan pusat bisnis dunia.
- Efisiensi operasional dan penerapan teknologi terbaru dalam manajemen bandara yang dibawa oleh mitra asing.
- Komitmen penyerapan tenaga kerja lokal serta transfer pengetahuan (transfer of knowledge) kepada staf Angkasa Pura.
- Kejelasan skema bagi hasil yang menjamin keberlanjutan finansial PT Angkasa Pura II sebagai induk perusahaan.
Tantangan Kualanamu Sebagai Hub Internasional di Asia Tenggara
Sejauh ini, publik terus memantau apakah kerja sama ini mampu mengubah wajah Kualanamu menjadi pemain utama di Selat Malaka. Sebagaimana tercantum dalam laman resmi Angkasa Pura II, transformasi bandara melalui kemitraan strategis bertujuan untuk memperkuat konektivitas global. Namun, Andre Rosiade mengingatkan bahwa visi besar tersebut jangan sampai mengorbankan kepentingan nasional jangka panjang. Evaluasi berkala berfungsi sebagai rem jika ditemukan penyimpangan atau ketidaktercapaian target yang merugikan negara.
Secara analitis, langkah Andre Rosiade ini mencerminkan fungsi pengawasan DPR yang semakin ketat terhadap aset-aset strategis BUMN. Kemitraan dengan GMR Airports yang berdurasi 25 tahun memang memerlukan pengawalan ketat agar tidak menjadi beban di masa depan. Angkasa Pura II harus lebih proaktif dalam melaporkan perkembangan investasi dan tantangan di lapangan. Integrasi antara kebijakan pemerintah pusat dan eksekusi di level operasional bandara akan menentukan apakah Kualanamu benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi Sumatra Utara atau hanya sekadar objek investasi yang kurang optimal.
Pemerintah perlu segera merespons permintaan evaluasi ini dengan melakukan review terhadap seluruh klausul perjanjian. Jika ditemukan ketidaksesuaian, renegosiasi atau perbaikan strategi operasional harus segera dilakukan. Langkah tegas ini sangat penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pengelolaan infrastruktur transportasi udara yang melibatkan modal asing di Indonesia.
