TIMIKA – Keberadaan salju terakhir Papua kini berada di ambang kepunahan total akibat terjangan fenomena El Nino yang sangat dahsyat. Padahal, kawasan pegunungan salju ini merupakan pusat spiritualitas yang sangat sakral bagi komunitas adat setempat.
Namun, ancaman nyata ini terjadi di tengah ironi besar bagi masyarakat adat. Orang asli Papua hampir tidak menyumbang sedikit pun emisi karbon yang memicu pemanasan global dunia.
Hilangnya Salju Terakhir Papua dan Kisah Masyarakat Adat
Gunung salju abadi di bumi Cenderawasih menyimpan jejak penaklukan sejarah yang panjang. Kisah ini terekam kuat dari memori tiga generasi orang Amungme dan Moni yang hidup di sekitar lereng pegunungan.
Bagi mereka, salju bukan sekadar fenomena alam biasa. Salju adalah mahkota suci yang menjadi identitas dan pusat kehidupan spiritual leluhur.
Dampak Nyata El Nino dan Perubahan Iklim
Kondisi puncak es kini semakin memprihatinkan karena suhu udara terus merangkak naik secara signifikan. Oleh sebab itu, para ahli memprediksi salju abadi ini akan segera hilang dalam waktu dekat.
Berikut adalah beberapa dampak langsung dari mencairnya salju abadi:
- Hilangnya sumber air bersih bagi ekosistem sekitar.
- Degradasi nilai kultural dan sakral bagi suku Amungme serta Moni.
- Kerusakan habitat flora dan fauna endemik pegunungan tinggi.
Sementara itu, dunia internasional terus mendesak adanya aksi nyata mitigasi iklim. Namun, penduduk lokal tetap harus menanggung beban kerusakan lingkungan yang tidak mereka perbuat.






