DPRD Samarinda Desak Pemkot Benahi Pasar Pagi, Pedagang Keluhkan Omzet Terus Menurun

Ketua Komisi II DPRD Samarinda Iswandi mengatakan pemerintah perlu mengevaluasi kembali konsep dan penataan Pasar Pagi agar mampu menarik lebih banyak pembeli.
Menurutnya, gedung yang terlihat modern secara fisik belum tentu mampu mendukung aktivitas ekonomi jika penataannya tidak mempertimbangkan akses dan pergerakan pengunjung.
“Ada yang dari awal buka belum terbeli dagangannya. Ada yang menyampaikan dalam 1 bulan bahkan 3 bulan membuka lapaknya, baru laku sekali. Kan miris,” kata Iswandi saat Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama Forum Pedagang Pasar Pagi (FP3), Rabu (2/9/2026).
Iswandi secara khusus menyoroti pedagang yang menempati lantai atas. Ia menilai lokasi tersebut membutuhkan strategi khusus agar pembeli mau berkunjung hingga ke lantai paling atas.
“Apalagi yang bukanya di lantai atas seperti lantai 7, secara estetika memang bagus, tapi secara ekonomi kasihan. Tolong pikirkan konsep Pasar Pagi ini nantinya,” ujarnya.
DPRD Beri Waktu Dinas Perdagangan
Komisi II DPRD Samarinda meminta Dinas Perdagangan Kota Samarinda segera menyusun langkah perbaikan. DPRD akan kembali mengevaluasi upaya pemerintah dalam waktu dua hingga tiga pekan mendatang.
“Dalam 2-3 minggu ke depan akan kami kumpulkan lagi bagaimana komitmen mereka (Dinas Perdagangan) memperbaiki kondisi teknis ini,” jelas Iswandi.
Salah satu usulan yang muncul yakni membangun eskalator berjalan di luar gedung. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mempermudah masyarakat mengakses area pasar dan meningkatkan arus pengunjung.
Menurut Iswandi, pemerintah tidak boleh hanya mempertahankan tampilan gedung. Pemkot juga harus memastikan desain dan fasilitas pasar mendukung aktivitas perdagangan.
Pedagang Bawa 14 Poin Keluhan
Dalam RDP tersebut, Forum Pedagang Pasar Pagi membawa 14 poin tuntutan kepada DPRD Samarinda.
Ketua FP3 Thoriq Hakim mengatakan persoalan akses menjadi salah satu keluhan utama pedagang. Ia menilai tangga di bagian depan gedung terlalu tinggi dan menyulitkan pengunjung.
“Permasalahan utama yang kita keluhkan akses masuk ke Pasar Pagi. Tangga depan itu sangat tinggi dan sudah memakan tiga korban yang kita ketahui selama ini. Maka kita harapkan ada upaya pembenahan,” kata Hakim.
Pedagang juga mempersoalkan tarif parkir yang mereka nilai terlalu mahal. Pengelola menetapkan tarif Rp20 ribu per hari untuk kendaraan roda empat dan Rp10 ribu untuk kendaraan roda dua.
Selain itu, pedagang mengeluhkan penataan kios dan fasilitas pendukung di lantai dua hingga lantai tujuh. Mereka menilai posisi lift dan eskalator yang berada di bagian tengah membuat sejumlah area perdagangan sepi dari lalu lalang calon pembeli.
“Penataannya fasilitas ini seperti untuk rumah susun, bukan pasar,” ujar Hakim.
DPRD Ingin Pasar Kembali Ramai
Iswandi menegaskan DPRD Samarinda tidak ingin persoalan Pasar Pagi berhenti pada keluhan pedagang. Ia meminta Pemkot Samarinda segera mengambil langkah konkret agar aktivitas jual beli kembali hidup.
Komisi II akan memantau tindak lanjut Dinas Perdagangan setelah pertemuan dengan para pedagang tersebut.
“Intinya mencari cara bagaimana Pasar Pagi ramai, pedagang senyum, ekonomi bergerak dan pembeli ramai,” pungkas Iswandi.
(Adv)


