Mendagri Tito Karnavian Ungkap Strategi Khusus Percepatan Pemulihan Pasca Banjir dan Longsor di Sumatera

JAKARTA – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menegaskan komitmen pemerintah pusat dalam mengawal percepatan pemulihan pascabencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Pulau Sumatera. Fokus utama saat ini mencakup tiga provinsi krusial yakni Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh yang mengalami dampak kerusakan infrastruktur cukup signifikan akibat cuaca ekstrem dalam beberapa pekan terakhir.
Dalam keterangannya kepada media, Tito menyampaikan bahwa koordinasi lintas sektor terus diperkuat untuk memastikan bantuan logistik dan perbaikan akses publik berjalan tanpa hambatan birokrasi yang berbelit. Beliau menekankan bahwa keselamatan warga dan pemulihan jalur distribusi logistik adalah prioritas utama yang tidak bisa ditawar. Pemerintah daerah diinstruksikan untuk bergerak cepat dalam memetakan kebutuhan mendesak di lapangan agar intervensi yang diberikan tepat sasaran.
Menurut Tito, salah satu instrumen keuangan yang harus segera dioptimalkan oleh para kepala daerah adalah penggunaan Belanja Tak Terduga (BTT). Dana ini disiapkan khusus untuk situasi darurat seperti bencana alam, sehingga tidak ada alasan bagi pemerintah daerah untuk ragu dalam mengambil tindakan penyelamatan dan perbaikan infrastruktur dasar yang rusak. Mendagri juga mengingatkan agar sinkronisasi data antara pemerintah kabupaten/kota dengan pemerintah provinsi harus berjalan linear agar tidak terjadi tumpang tindih penyaluran bantuan.
Kondisi di Sumatera Barat menjadi perhatian khusus mengingat topografi wilayah yang rawan longsor di jalur lintas utama. Mendagri menyebutkan bahwa kolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) telah dilakukan untuk mengerahkan alat berat ke titik-titik krusial yang sempat memutus urat nadi ekonomi antarprovinsi. Sementara itu, untuk wilayah Sumatera Utara dan Aceh, fokus penanganan diarahkan pada normalisasi aliran sungai dan perbaikan tanggul yang jebol guna mengantisipasi banjir susulan di tengah tingginya intensitas curah hujan.
Selain penanganan jangka pendek, Tito Karnavian juga mendorong pentingnya strategi mitigasi bencana jangka panjang yang melibatkan kearifan lokal dan perencanaan tata ruang yang lebih ketat. Beliau meminta seluruh jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk tetap dalam posisi siaga satu, mengingat prediksi BMKG yang menunjukkan potensi cuaca ekstrem masih mungkin terjadi dalam waktu dekat.
“Kita tidak ingin penanganan ini hanya bersifat sementara. Rehabilitasi dan rekonstruksi harus dilakukan dengan standar yang lebih baik agar infrastruktur yang dibangun kembali memiliki ketahanan terhadap ancaman bencana di masa depan,” tegas Tito. Pemerintah pusat melalui BNPB akan terus memberikan pendampingan teknis dan dukungan manajerial kepada daerah-daerah terdampak hingga kondisi benar-benar pulih dan aktivitas ekonomi masyarakat kembali normal.
Mendagri menutup keterangannya dengan mengapresiasi kerja keras para relawan, personel TNI/Polri, serta petugas lapangan yang telah berjibaku melakukan evakuasi dan pembersihan material longsor di tengah medan yang sulit. Sinergi antara pusat dan daerah diharapkan menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak kerugian materiil maupun korban jiwa akibat bencana hidrometeorologi ini.

