Manuver Donald Trump Singkirkan Benjamin Netanyahu dan Kelompok Radikal Israel

WASHINGTON DC – Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan sinyal kuat bahwa ia tidak lagi sejalan dengan kepemimpinan Perdana Menteri Benjamin Netanyahu di Israel. Dalam berbagai laporan diplomatik teranyar, Trump diklaim mulai menyusun strategi untuk mendorong pergantian rezim di Tel Aviv, terutama menyasar aliansi Netanyahu dengan partai-partai Yahudi garis keras. Langkah ini muncul sebagai respons atas kegagalan intelijen Israel pada 7 Oktober dan ketidakpuasan Trump terhadap cara Netanyahu mengelola stabilitas kawasan Timur Tengah.
Ketegangan antara kedua tokoh ini sebenarnya telah membara sejak Trump meninggalkan Gedung Putih, namun belakangan tensi tersebut mencapai titik didih. Trump menganggap Netanyahu sebagai beban politik yang menghambat visi perdamaian versinya, termasuk kelanjutan Abraham Accords yang pernah ia rintis. Selain itu, ketergantungan Netanyahu pada faksi sayap kanan ekstrem dianggap merusak citra Israel di mata sekutu internasional dan konstituen moderat di Amerika Serikat.
Alasan Strategis di Balik Sikap Dingin Trump
Donald Trump secara terbuka mengkritik kesiapan militer Israel di bawah kepemimpinan Netanyahu. Namun, di balik retorika tersebut, terdapat motif politik yang lebih dalam. Trump ingin memastikan bahwa jika ia kembali menjabat pada periode kedua, ia akan bekerja dengan mitra yang lebih fleksibel dan tidak tersandera oleh ideologi agama ekstrem di dalam kabinet Israel. Berikut adalah poin-poin krusial yang mendasari keinginan Trump untuk mengganti rezim tersebut:
- Kekecewaan Personal: Trump merasa dikhianati saat Netanyahu mengucapkan selamat kepada Joe Biden atas kemenangan pemilu 2020.
- Visi Regional: Trump menginginkan normalisasi hubungan antara Israel dan negara-negara Arab tanpa gangguan dari kebijakan pemukiman ilegal yang agresif.
- Stabilitas Domestik: Trump menyadari bahwa dukungan terhadap Israel di kalangan pemilih muda AS mulai tergerus akibat tindakan brutal kelompok garis keras dalam koalisi Netanyahu.
- Efisiensi Militer: Trump lebih menyukai pendekatan pragmatis dalam menangani konflik daripada perang berkepanjangan yang menghabiskan sumber daya.
Upaya Trump ini secara langsung menyasar kekuatan di balik singgasana Netanyahu, yaitu partai-partai ultranasionalis yang memegang kunci kekuasaan di Knesset. Tanpa dukungan mereka, pemerintahan Netanyahu akan runtuh dalam hitungan hari. Strategi ini menunjukkan bahwa Trump sedang melakukan ‘pembersihan’ mitra internasional demi memuluskan kebijakan luar negerinya yang bertajuk America First.
Profil Partai Garis Keras yang Menjadi Target
Struktur pemerintahan Israel saat ini merupakan yang paling kanan dalam sejarah negara tersebut. Netanyahu terpaksa merangkul tokoh-tokoh kontroversial untuk mempertahankan kekuasaannya. Beberapa partai yang kini berada dalam radar pengamatan tim strategis Trump antara lain:
- Otzma Yehudit (Kekuatan Yahudi): Dipimpin oleh Itamar Ben-Gvir, menteri yang dikenal karena retorika rasis dan provokasi di kompleks Al-Aqsa.
- Zionisme Religius: Di bawah pimpinan Bezalel Smotrich, yang mengadvokasi aneksasi penuh Tepi Barat dan pembubaran otoritas Palestina.
- Shas: Partai ultra-ortodoks yang fokus pada kepentingan agama dan pembiayaan sekolah-sekolah teologi, seringkali bertentangan dengan kebijakan sekuler AS.
Hubungan antara Washington dan Tel Aviv memang sedang berada di titik nadir. Analisis ini sejalan dengan laporan dari Reuters yang menyoroti bagaimana keretakan hubungan Trump-Netanyahu dapat mengubah peta geopolitik dunia pasca-2024. Jika Trump berhasil mendorong perubahan kepemimpinan, kita mungkin akan melihat wajah baru pemerintahan Israel yang lebih moderat, atau setidaknya lebih patuh pada arahan Gedung Putih.
Pada akhirnya, manuver Trump ini bukan sekadar urusan personal, melainkan upaya mendefinisikan ulang peran Amerika Serikat di Timur Tengah. Dengan menyingkirkan elemen radikal di Israel, Trump berharap dapat mengklaim kembali posisi sebagai arsitek perdamaian dunia yang dominan. Perkembangan ini tentu menjadi alarm bagi Netanyahu, yang kini harus bertarung di dua front: menghadapi oposisi internal dan meredam ketidaksukaan calon kuat Presiden AS tersebut.


