Advertise with Us

Internasional

Donald Trump Sebut Suriah Lebih Tangguh Hadapi Hizbullah Dibandingkan Israel

WASHINGTON – Pernyataan kontroversial kembali meluncur dari mulut Donald Trump terkait situasi keamanan di Timur Tengah. Mantan Presiden Amerika Serikat tersebut menilai bahwa Suriah kemungkinan besar mampu menjalankan tugas menghadapi milisi Hizbullah di Lebanon dengan jauh lebih baik daripada Israel. Ucapan ini mencerminkan keretakan hubungan yang semakin nyata antara Trump dengan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, sekaligus mengubah narasi tradisional kebijakan luar negeri AS di kawasan tersebut.

Kritik tajam ini muncul saat Trump menyoroti efektivitas pertahanan Israel dalam membendung pengaruh kelompok pro-Iran. Trump mengisyaratkan bahwa koordinasi taktis dan posisi geografis Suriah memberikan keunggulan tersendiri dalam meredam pergerakan Hizbullah. Pernyataan ini cukup mengejutkan mengingat selama ini Israel dianggap sebagai sekutu militer terkuat Amerika Serikat di wilayah tersebut untuk urusan kontra-terorisme dan stabilitas regional.

Akar Perselisihan Trump dan Benjamin Netanyahu

Hubungan antara kedua pemimpin ini sebenarnya telah mendingin sejak beberapa tahun terakhir. Trump merasa kecewa setelah Netanyahu memberikan ucapan selamat kepada Joe Biden atas kemenangan dalam Pilpres AS 2020. Sindiran terbaru mengenai kemampuan Suriah ini menjadi sinyal kuat bahwa Trump tidak lagi memandang kepemimpinan Netanyahu sebagai pilar utama strategi keamanan AS di Timur Tengah jika ia kembali berkuasa. Berikut adalah poin-poin utama yang melatarbelakangi ketegangan tersebut:

  • Kekecewaan personal Trump terhadap loyalitas politik Netanyahu.
  • Evaluasi ulang efektivitas intelijen Israel pasca-insiden keamanan di perbatasan.
  • Strategi Trump untuk menyeimbangkan kekuatan regional dengan melibatkan aktor non-tradisional.
  • Pergeseran fokus AS yang mulai mempertanyakan biaya bantuan militer tanpa hasil yang instan.

Dalam analisis yang lebih luas, pernyataan Trump ini bukan sekadar luapan emosi, melainkan sebuah bentuk kritik terhadap strategi militer Israel yang ia anggap lamban. Dengan memuji potensi Suriah, Trump secara tidak langsung menekan pemerintahan Netanyahu agar lebih agresif atau menghadapi kemungkinan berkurangnya dukungan diplomatik absolut dari Washington di masa depan.

Implikasi Geopolitik dan Keterlibatan Hizbullah

Hizbullah tetap menjadi ancaman paling serius bagi stabilitas perbatasan utara Israel. Kelompok ini memiliki ribuan rudal presisi dan ribuan pejuang berpengalaman yang telah teruji dalam perang saudara di Suriah. Trump menilai bahwa kedekatan fisik dan sejarah gesekan antara militer Suriah dengan elemen-elemen Lebanon memberikan Suriah ‘keahlian’ yang tidak dimiliki oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) dalam operasi darat tertentu.


Advertise with Us

Namun, pandangan ini mengundang perdebatan di kalangan pengamat internasional. Sebagian besar ahli menganggap bahwa Suriah sendiri masih berjuang untuk memulihkan kedaulatan negaranya dan sangat bergantung pada dukungan Iran, yang juga merupakan penyokong utama Hizbullah. Mengandalkan Suriah untuk melawan Hizbullah dianggap sebagai paradoks yang sulit terwujud dalam realitas politik saat ini. Anda dapat membaca laporan mendalam mengenai kekuatan militer regional di laman Reuters Middle East untuk memahami peta kekuatan terkini.

Menakar Masa Depan Aliansi AS dan Israel

Jika retorika ini terus berlanjut, posisi Israel sebagai mitra strategis utama AS bisa menghadapi tantangan internal di Washington. Trump secara aktif membangun opini bahwa sekutu AS harus melakukan lebih banyak upaya mandiri daripada hanya mengandalkan bantuan finansial dan militer Amerika. Pergeseran ini menghubungkan kebijakan lama Trump yang bersifat ‘America First’ dengan dinamika baru pasca-konflik Gaza yang berkepanjangan.

Pada akhirnya, sindiran Trump terhadap Netanyahu ini menunjukkan bahwa stabilitas di Timur Tengah kini berada dalam fase ketidakpastian tinggi. Dengan mempertarungkan peran Suriah melawan kredibilitas militer Israel, Trump sedang memaksa para pemimpin regional untuk menghitung ulang langkah mereka sebelum siklus pemilihan pemimpin dunia berikutnya dimulai.


Advertise with Us


Advertise with Us

Back to top button