Hadapi Lonjakan Lalu Lintas, Pemprov Kaltim Rancang Pembangunan Waterfront Road di Samarinda dan BalikpapanÂ

KALTIMNEWSROOM.COM – Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Pemprov Kaltim) mulai merancang pembangunan jalan tepi air atau waterfront road di dua kota strategis, Samarinda dan Balikpapan.
Proyek infrastruktur besar ini diharapkan menjadi solusi jangka panjang untuk mengurai kemacetan lalu lintas yang kerap terjadi di kedua kota tersebut.
Selain itu, proyek ini juga bertujuan memperkuat konektivitas wilayah, mengingat semakin dekatnya operasional Ibu Kota Nusantara (IKN).
Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, mengungkapkan bahwa rencana pembangunan jalan tepi air ini masih dalam tahap perencanaan awal.
Meski begitu, anggaran yang dibutuhkan sudah terlihat cukup besar, dengan estimasi biaya mencapai Rp7 triliun.
Samarinda diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp2 triliun, sementara Balikpapan sekitar Rp5 triliun.
Tujuan Pembangunan untuk Masa Depan
Gubernur Rudy Mas’ud menjelaskan bahwa pembangunan jalan tepi air bukan hanya sekadar proyek infrastruktur biasa, melainkan bagian dari strategi jangka panjang Pemprov Kaltim dalam menghadapi lonjakan ekonomi dan mobilitas penduduk yang akan meningkat seiring dengan beroperasinya IKN.
Rudy menegaskan bahwa Pemprov Kaltim ingin menyiapkan infrastruktur yang mumpuni sejak awal, agar Samarinda dan Balikpapan tidak lagi terbebani kemacetan lalu lintas yang semakin parah.
“Kami ingin menyiapkan infrastruktur dari sekarang. Ketika IKN beroperasi, kedua kota penyangga ini harus siap, dan kemacetan tidak lagi menjadi masalah utama,” kata Rudy Mas’ud.
Rencana Jalan Tepi Air di Samarinda
Di Samarinda, Pemprov Kaltim merancang jalan tepi air yang akan membentang dari kawasan Jembatan Mahkota II hingga Selili Jalur ini dirancang untuk mengurangi kepadatan lalu lintas di sekitar Jembatan I Sungai Dama dan pusat kota Samarinda yang sering macet, terutama pada jam sibuk.
Rudy menilai jalur sepanjang tepi Sungai Mahakam ini sangat potensial untuk dijadikan alternatif utama bagi kendaraan yang saat ini terjebak di jalur-jalur utama yang padat.
“Jalan di sepanjang tepi Sungai Mahakam akan menjadi solusi bagi kemacetan yang sering terjadi di pusat kota. Kami berharap jalur ini bisa mempercepat mobilitas di Samarinda,” ungkap Rudy.
Waterfront Road di Balikpapan
Sementara itu, di Balikpapan, rencana pembangunan jalan tepi air juga akan menghubungkan kawasan sekitar Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman (SAMS) Sepinggan hingga Monumen Perjuangan Rakyat (Monpera) yang berada di depan Markas Kodam VI/Mulawarman.
Jalur ini diproyeksikan dapat mengurangi kepadatan lalu lintas di Jalan Jenderal Sudirman, yang selama ini menjadi jalan utama yang menghubungkan berbagai titik penting di Balikpapan.
Gubernur Rudy menilai bahwa karakter geografis Balikpapan yang berbatasan langsung dengan laut memberikan peluang besar untuk membangun jalan tepi air yang tidak hanya berfungsi sebagai jalur transportasi, tetapi juga memiliki nilai estetika yang tinggi. Dengan memanfaatkan garis pantai, jalan ini bisa menjadi daya tarik baru sekaligus memperbaiki kualitas hidup masyarakat.
Pengembangan Kawasan yang Lebih Tertib dan Berdaya Guna
Selain fungsinya sebagai jalur lalu lintas, Pemprov Kaltim juga berencana untuk menjadikan kawasan sepanjang jalan tepi air ini sebagai ruang publik yang lebih tertib dan terorganisir.
Dengan desain yang lebih baik, kawasan ini dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan ekonomi dan rekreasi masyarakat, seperti kawasan wisata baru atau pusat kuliner, yang diharapkan dapat mendukung pertumbuhan ekonomi lokal.
“Selain mengurangi kemacetan, kita juga ingin kawasan ini menjadi ruang publik yang lebih tertata dan memiliki potensi ekonomi yang besar,” kata Rudy.
Pendanaan dan Studi Kelayakan Proyek
Terkait dengan pendanaan, Rudy mengungkapkan bahwa proyek ini akan dibiayai melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kalimantan Timur, dengan memanfaatkan peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) sebagai sumber utama.
Namun, ia menegaskan bahwa seluruh rencana pembangunan masih menunggu hasil studi kelayakan yang akan mengevaluasi aspek teknis, lingkungan, serta kemampuan fiskal daerah.
“Semua masih dalam tahap perencanaan. Kami tidak ingin tergesa-gesa dalam merealisasikan proyek ini. Kami harus memastikan bahwa proyek ini layak, baik dari segi teknis, anggaran, maupun dampak lingkungan,” jelas Rudy.
Dukungan terhadap IKN
Pemprov Kaltim juga menekankan bahwa pembangunan ini merupakan bagian dari upaya mendukung keberadaan IKN.
Dengan infrastruktur yang lebih baik, diharapkan konektivitas antara kota-kota penyangga dan IKN dapat berjalan lancar, tanpa terhambat oleh kemacetan.
Rudy menegaskan bahwa Samarinda dan Balikpapan harus siap menjadi daerah penyangga yang kuat, karena jika kedua kota tersebut macet dan infrastrukturnya tidak memadai, akan mengganggu keseluruhan sistem konektivitas kawasan IKN.
“Jika kota-kota penyangga macet, itu akan mempengaruhi seluruh sistem. Kami tidak ingin hal itu terjadi, jadi infrastruktur harus siap jauh-jauh hari,” tegas Rudy.
Mempersiapkan Infrastruktur untuk Masa Depan
Meskipun saat ini masih dalam tahap perencanaan, proyek jalan tepi air ini mendapat perhatian luas, terutama karena kemacetan lalu lintas telah menjadi masalah klasik yang dihadapi masyarakat.
Pemprov Kaltim berkomitmen untuk terus mencari solusi berkelanjutan, tidak hanya untuk mengatasi kemacetan saat ini, tetapi juga untuk kebutuhan puluhan tahun mendatang.
“Yang kita pikirkan bukan hanya hari ini, tapi bagaimana Samarinda dan Balikpapan 10-20 tahun ke depan. Infrastruktur harus kita siapkan dari sekarang,” pungkas Rudy Mas’ud.
Proyek jalan tepi air ini diproyeksikan akan menjadi solusi besar bagi kemacetan yang selama ini mengganggu mobilitas masyarakat, serta menjadi bagian penting dalam mempersiapkan Kalimantan Timur menghadapi era baru dengan hadirnya IKN. (*)


