Advertise with Us

Ekonomi

Tak Lagi Impor, Airlangga Sebut Indonesia Swasembada Solar

Kaltimnewsroom.com – Pemerintah Indonesia memutuskan akan berhenti mengimpor bahan bakar minyal (BBM) jenis solar.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa Indonesia berhasil mencapai swasembada solar.

Ia menyebut capaian ini didukung oleh kebijakan mandatori biodiesel serta beroperasinya kilang dalam negeri.

Hal ini ia sampaikan dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Selasa (13/1).

“Pemerintah terus mendorong mandatori biodiesel di mana mandatori biodiesel B40 ini menghemat emisi sebesar mendekati 42 juta ton daripada CO2,” kata Airlangga dalam acara Road to Jakarta Food Security Summit di Menara Kadin, Jakarta Selatan, Selasa (13/1).


Advertise with Us

Selain menekan emisi, kebijakan tersebut juga berdampak pada pengurangan ketergantungan impor.

“Dan juga menghemat devisa sebesar US$8 miliar terhadap impor solar,” ujarnya.

Menurut Airlangga, capaian swasembada solar diperkuat setelah proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto.


Advertise with Us

“Dan dengan diresmikannya RDMP kemarin oleh Bapak Presiden maka solar kita tidak perlu impor lagi,” katanya.

Ia menyebut kondisi tersebut menjadi penanda kemandirian pasokan energi, setidaknya untuk komoditas solar.

“Jadi kita sudah “swasembada” di bidang solar dan tentu kita akan terus ditingkatkan untuk energi yang lain,” ujar Airlangga.

Kementerian ESDM Hentikan Impor Solar

Diberitakan sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan tahun ini impor solar dihentikan.

Hal ini ia sampaikan menyusul peresmian Proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) Kilang Balikpapan yang diresmikan Presiden Prabowo Subianto pada Senin (12/1).

Ia menekankan bahwa kementeriannya tidak lagi mengeluarkan izin impor untuk solar.

“Begitu (proyek ini) diresmikan, maka insyaallah kita tahun ini kita tidak lagi melakukan impor solar. Kita sudah mulai tahun ini, saya tidak lagi mengeluarkan izin impor solar. Mulai tahun ini enggak lagi,” ujarnya.

Ia menambahkan, apabila masih ada impor solar yang masuk pada tahun ini, hal itu kemungkinan besar merupakan sisa pengiriman dari izin tahun lalu. Menurutnya, masih ada solar yang sudah diimpor tetapi belum sampai di dalam negeri.

“Andaikan ada yang masuk di bulan ini atau bulan depan, itu berarti sisa impor 2025. Tetapi tahun ini Kementerian ESDM atas perintah Bapak Presiden, karena kita punya kilang sudah ada, kita tidak lagi mengeluarkan izin impor,” jelasnya.

Bahlil merinci bahwa izin impor yang disetop total adalah solar jenis CN48. Sementara untuk CN51, impor masih berjalan hingga paruh pertama tahun ini, namun akan dihentikan sepenuhnya pada semester kedua.

“Untuk CN 48 sama sekali sudah setop impor. CN 51-nya semester dua tidak kita impor lagi. Semester dua tahun ini,” terangnya.

Dengan demikian, PT Pertamina (Persero) akan memproduksi semua jenis solar mulai Juli 2026. Seluruh perusahaan swasta hanya bisa membeli dari perseroan. “Semuanya (jenis solar bisa diproduksi Pertamina),” tegasnya.

RDMP Balikpapan: Proyek Strategis Nasional

RDMP Kilang Balikpapan merupakan proyek terbesar yang pernah dibangun Pertamina dengan nilai investasi mencapai US$7,4 miliar atau setara Rp123 triliun. Pembangunannya dimulai sejak April 2006. Setelah melalui proses panjang hampir satu dekade, proyek ini akhirnya beroperasi penuh pada awal 2026.

Tujuan utama pembangunan kilang ini adalah meningkatkan kapasitas produksi dari 260 ribu barel per hari menjadi 360 ribu barel per hari. Dengan tambahan kapasitas tersebut, Indonesia mampu memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi ketergantungan pada impor BBM.

RDMP Balikpapan akan menghasilkan berbagai produk minyak dan gas, mulai dari solar, bensin, hingga LPG. Untuk solar, pemerintah memastikan tidak lagi membutuhkan tambahan dari impor karena produksi dalam negeri sudah mencukupi.

Sementara untuk bensin, impor akan berkurang drastis. Saat ini impor bensin mencapai 24 juta kiloliter. Dengan beroperasinya RDMP, tambahan produksi sebesar 5,8 juta kiloliter akan menekan impor menjadi sekitar 18–19 juta kiloliter saja.

(*)


Advertise with Us

Back to top button