PALANGKARAYA — Bencana kebakaran hutan dan lahan atau karhutla Kalteng kembali memicu darurat lingkungan setelah fenomena langit oranye menyelimuti berbagai wilayah akibat pekatnya kepulan asap. Fenomena alam yang mengkhawatirkan ini terjadi karena titik api terus meluas akibat musim kemarau panjang, sehingga memicu penurunan kualitas udara secara drastis di sejumlah kabupaten dan kota.
Selain perubahan warna langit yang mencolok, pekatnya kabut asap juga berdampak langsung pada aktivitas harian masyarakat setempat. Oleh karena itu, pemerintah daerah mengimbau warga agar senantiasa mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan demi menghindari berbagai gangguan pernapasan akut.
Penanganan Darurat Karhutla Kalteng oleh BNPB
Menghadapi eskalasi bencana yang semakin mengkhawatirkan, Badan Nasional Penanggulangan Bencana atau BNPB langsung mengambil langkah taktis di lapangan. Sementara itu, fokus utama operasi penanggulangan saat ini diarahkan pada pemadaman darat secara intensif di titik-titik api yang sulit dijangkau oleh kendaraan taktis konvensional.
Ribuan personel gabungan dikerahkan secara serentak untuk menjinakkan amukan si jago merah yang terus membakar lahan gambut. Berikut adalah beberapa langkah strategis yang dijalankan oleh satgas di lapangan:
- Pengerahan ribuan personel dari unsur TNI, Polri, Manggala Agni, dan relawan lokal.
- Operasi pemadaman darat menggunakan mesin pompa jinjing dan selang panjang menembus areal gambut.
- Pembuatan sekat bakar guna mencegah api merambat ke kawasan permukiman warga.
- Patroli udara secara berkala untuk memetakan titik panas baru yang berpotensi memicu kebakaran susulan.
Kendala Pemadaman dan Harapan ke Depan
Meskipun ribuan petugas telah bekerja maksimal siang dan malam, proses pemadaman karhutla Kalteng tetap menghadapi berbagai tantangan berat di lapangan. Selain ketersediaan sumber air yang mulai menipis di dekat lokasi kebakaran, tiupan angin kencang seringkali mengubah arah api secara tiba-tiba sehingga membahayakan keselamatan tim penyelamat.
Oleh sebab itu, sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mengakhiri bencana ini secepatnya. Selain upaya pemadaman darat, operasi modifikasi cuaca juga diharapkan segera membuahkan hasil berupa hujan buatan untuk membasahi lahan gambut yang kering kerontang.






