Tiga Wabah Digital Mengintai Generasi Muda, DPRD Kaltim Ingatkan Ancaman Narkoba, Judi Online, dan Pornografi

KALTIMNEWSROOM.COM – Arus digitalisasi yang semakin tak terbendung membawa tantangan besar bagi masa depan generasi muda. Di balik kemudahan akses informasi dan hiburan, terselip ancaman serius yang kian masif dan sulit dikendalikan. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kalimantan Timur (Kaltim) menyoroti tiga bahaya utama yang kini mengintai anak muda, yakni narkoba, judi online, dan pornografi.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kaltim, Andi Satya Adi Saputra, menilai ketiga persoalan tersebut telah berkembang menjadi ancaman nyata yang saling berkaitan. Ia menegaskan bahwa narkoba, judi daring, dan pornografi tidak bisa lagi ditangani secara parsial karena dampaknya merusak berbagai sendi kehidupan, mulai dari kesehatan, ekonomi, hingga ketahanan keluarga.
“Ini saya sebut sebagai tiga wabah daring. Narkoba merusak kesehatan fisik dan mental, judi online menghancurkan ekonomi keluarga, sementara pornografi merusak moral dan ketahanan rumah tangga. Kalau dibiarkan, dampaknya bisa panjang dan berlapis,” ujar Andi Satya, Senin (19/1/2025).
Generasi Muda Paling Rentan Terpapar
Menurut Andi Satya, generasi muda menjadi kelompok paling rentan karena intensitas penggunaan gawai dan internet yang sangat tinggi. Anak-anak dan remaja kini hidup di ruang digital yang nyaris tanpa sekat, sehingga mudah terpapar konten dan aktivitas berbahaya hanya lewat satu sentuhan layar.
Ia menilai, tanpa pendampingan dan literasi digital yang kuat, teknologi justru berubah menjadi pintu masuk berbagai persoalan sosial. Paparan konten negatif yang berulang dapat memengaruhi pola pikir, perilaku, hingga keputusan hidup generasi muda.
“Sekarang ini, ancamannya tidak datang dari jalanan saja, tapi dari layar ponsel. Itu yang membuat pengawasannya jauh lebih sulit,” katanya.
Efek Dopamin Jadi Akar Masalah Kecanduan
Sebagai seorang tenaga medis, Andi Satya menjelaskan bahwa narkoba, judi online, dan pornografi memiliki kesamaan dari sisi biologis dan psikologis. Ketiganya memengaruhi sistem saraf pusat dengan cara memicu pelepasan dopamin secara berlebihan.
“Dopamin itu zat kimia yang membuat manusia merasa senang dan puas. Secara alami, dopamin dilepaskan saat kita berolahraga, berprestasi, mendengarkan musik, atau beribadah. Itu sehat,” jelasnya.
Namun, ketika dopamin dipicu oleh zat adiktif atau aktivitas negatif, lonjakan yang terjadi jauh melampaui batas normal.
“Narkoba bisa meningkatkan dopamin lebih dari lima kali lipat dari kondisi normal. Sensasi senangnya singkat, tapi efek candunya sangat kuat. Pola ini juga terjadi pada judi online dan pornografi,” tegas Andi Satya.
Lonjakan dopamin yang tidak terkendali membuat otak kesulitan kembali ke kondisi normal. Akibatnya, seseorang terus mencari sensasi yang sama dengan risiko yang semakin besar, sehingga kecanduan menjadi sulit dihentikan.
Judi Online Dinilai Paling Sulit Diputus
Andi Satya secara khusus menyoroti maraknya judi online yang kini dikemas dalam bentuk permainan digital. Menurutnya, judi daring menjadi jebakan serius karena menawarkan iming-iming keuntungan instan dan sensasi menang yang menipu.
“Judi online itu lebih berbahaya dari yang terlihat. Kalau menang, ingin mengulang. Kalau kalah, penasaran dan ingin balas. Siklusnya tidak pernah selesai,” ujarnya.
Ia menyebut banyak kasus menunjukkan kecanduan judi online justru lebih sulit disembuhkan dibandingkan narkoba. Dampaknya pun tidak hanya dirasakan oleh pelaku, tetapi juga keluarga dan lingkungan sekitar.
“Banyak keluarga hancur karena judi online. Ekonomi rumah tangga rusak, konflik meningkat, bahkan ada yang berujung pada tindakan kriminal,” katanya.
Pornografi Rusak Moral Secara Perlahan
Selain narkoba dan judi online, pornografi juga dinilai membawa dampak jangka panjang yang kerap tidak disadari. Paparan konten pornografi sejak usia dini dapat memengaruhi cara pandang generasi muda terhadap relasi, seksualitas, dan nilai moral.
“Pornografi itu merusak pelan-pelan. Dampaknya mungkin tidak langsung terlihat, tapi dalam jangka panjang bisa memengaruhi perilaku dan keharmonisan rumah tangga di masa depan,” ungkap Andi Satya.
Pencegahan Harus Jadi Tanggung Jawab Bersama
Andi Satya menegaskan bahwa upaya pencegahan tidak bisa hanya mengandalkan aparat penegak hukum. Peran keluarga, sekolah, pemerintah, dan komunitas sosial harus berjalan seiring.
“Pencegahan harus dimulai dari rumah. Orang tua harus hadir secara emosional. Sekolah perlu memperkuat pendidikan karakter dan literasi digital. Pemerintah juga harus tegas dalam pengawasan dan regulasi,” tegas politisi Partai Golkar tersebut.
Ia juga mendorong kerja sama lintas sektor, termasuk tokoh agama, organisasi kepemudaan, dan platform digital, untuk menekan penyebaran konten negatif di ruang siber.
Menutup pernyataannya, Andi Satya mengingatkan generasi muda agar tidak pernah mencoba narkoba, judi online, maupun pornografi.
“Sekali mencoba, risikonya sangat besar. Jangan merasa kuat atau kebal. Pencegahan jauh lebih mudah daripada pemulihan. Ini tanggung jawab kita bersama untuk menyelamatkan generasi muda,” pungkasnya.
Dengan ancaman yang semakin kompleks di era digital, DPRD Kaltim berharap kesadaran kolektif masyarakat terus diperkuat, karena masa depan daerah dan bangsa sangat bergantung pada kualitas generasi mudanya hari ini.
(Redaksi)


