Mahakam Ulu Jadi Benteng Terakhir Hutan Kaltim, Tutupan Capai 80 Persen

KALTIMNEWSROOM.COM – Di tengah tekanan industri ekstraktif yang terus berlangsung di berbagai wilayah Kalimantan Timur (Kaltim), Kabupaten Mahakam Ulu masih berdiri sebagai kawasan dengan kondisi hutan paling terjaga. Pemerintah Provinsi Kaltim mencatat, tutupan hutan di Mahakam Ulu mencapai sekitar 80 persen, jauh di atas rata-rata provinsi yang berada di angka 62 persen.
Data tersebut disampaikan Kepala Bidang Perencanaan dan Pemanfaatan Hutan Dinas Kehutanan (Dishut) Kalimantan Timur, Susilo Pranoto. Ia menjelaskan bahwa kondisi geografis dan keterbatasan akses menjadi faktor penting yang menjaga kawasan hutan di wilayah perbatasan tersebut.
“Mahakam Ulu relatif masih sangat baik karena tekanan industrinya belum sebesar daerah lain. Akses yang terbatas juga berkontribusi terhadap terjaganya kawasan hutan di sana,” ujar Susilo, Senin (19/1/2025).
Tutupan Hutan Kaltim Masih di Atas Batas Nasional
Secara keseluruhan, Kalimantan Timur masih mencatatkan tutupan hutan yang cukup signifikan. Dari total luas daratan sekitar 12,69 juta hektare, sekitar 62 persen wilayah masih tertutup hutan hujan tropis, baik hutan primer maupun sekunder.
“Kalau kita melihat dari angka tutupan hutan, Kaltim masih berada di posisi yang relatif aman. Sekitar 62 persen wilayah daratan masih berupa hutan. Ini jauh di atas ketentuan nasional yang mensyaratkan minimal 30 persen,” kata Susilo.
Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tekanan terhadap kawasan hutan terus meningkat seiring aktivitas pertambangan, perkebunan, dan pembangunan infrastruktur. Oleh karena itu, pengendalian pemanfaatan ruang menjadi hal yang krusial.
Daerah Industri Masih Bertahan di Kisaran 50 Persen
Susilo mengungkapkan, wilayah yang lebih dulu berkembang seperti Kutai Barat dan Kutai Kartanegara masih mampu mempertahankan tutupan hutan di kisaran 50 persen. Menurutnya, capaian ini patut diapresiasi mengingat intensitas pemanfaatan ruang di dua daerah tersebut tergolong tinggi.
“Ini hasil dari pengawasan dan kebijakan tata ruang yang terus kami evaluasi. Upaya menjaga hutan tetap menjadi prioritas,” ujarnya.
Pengakuan Dunia atas Upaya Kaltim Menjaga Hutan
Upaya Kalimantan Timur dalam menjaga tutupan hutan mendapat pengakuan internasional. Pemerintah Provinsi Kaltim menerima insentif penurunan emisi gas rumah kaca dari Bank Dunia dengan nilai mencapai 110 juta dolar Amerika Serikat.
“Sebagian dana insentif itu sudah dicairkan. Penggunaannya kami arahkan kembali untuk program-program lingkungan, terutama yang melibatkan masyarakat secara langsung di tingkat tapak,” ungkap Susilo.
Dana tersebut digunakan untuk mendukung program perhutanan sosial, penguatan ekonomi masyarakat sekitar hutan, serta konservasi berbasis komunitas.
Akademisi: Hutan Mahakam Ulu Tidak Tergantikan
Dosen Fakultas Kehutanan Universitas Mulawarman, Ibrahim, menilai Mahakam Ulu memiliki peran strategis sebagai benteng ekologis Kalimantan Timur. Ia menegaskan bahwa menjaga hutan yang masih utuh jauh lebih penting dibandingkan mengandalkan reklamasi pascatambang.
“Secara ilmiah, hutan hujan tropis itu tidak bisa digantikan. Reklamasi tidak akan pernah mengembalikan fungsi ekologis hutan seperti semula,” tegas Ibrahim.
Ia menjelaskan bahwa aktivitas tambang menghilangkan lapisan tanah atas dan merusak struktur tanah.
“Lapisan tanah atas atau top soil sudah hilang. Unsur hara berkurang, mikroorganisme tanah rusak,” jelasnya.
Hutan Hulu Mahakam Jaga Samarinda dari Banjir
Ibrahim juga menyoroti pentingnya kawasan hulu Sungai Mahakam yang sebagian besar berada di Mahakam Ulu. Menurutnya, hutan di wilayah ini berperan besar dalam mengatur tata air dan mencegah banjir di wilayah hilir.
“Kalau kawasan hulunya rusak, jangan heran kalau banjir di Samarinda terus berulang. Ini hubungan sebab-akibat yang sangat jelas dalam ilmu lingkungan,” katanya.
Kerusakan hutan di hulu sungai dinilai akan meningkatkan sedimentasi dan memperbesar risiko banjir di kawasan perkotaan.
Menjaga Hutan Lebih Efektif dari Pemulihan
Ibrahim menegaskan bahwa kebijakan pembangunan di Kalimantan Timur harus menitikberatkan pada upaya pencegahan kerusakan hutan, khususnya di Mahakam Ulu.
“Hutan yang masih berdiri adalah aset jangka panjang. Jika rusak, kerugiannya jauh lebih besar dan sulit dipulihkan,” pungkasnya.
Dengan Mahakam Ulu yang masih terjaga dan tutupan hutan Kaltim yang berada di atas 60 persen, pemerintah daerah dihadapkan pada tanggung jawab besar untuk menjaga keseimbangan antara pembangunan dan keberlanjutan lingkungan. Keberhasilan menjaga kawasan ini akan menentukan masa depan ekologi dan keselamatan masyarakat Kalimantan Timur secara keseluruhan.
(Redaksi)


