Kanselir Jerman Prediksi Nasib Rezim Iran Tinggal Menghitung Hari

Kaltimnewsroom.com – Kanselir Jerman Friedrich Merz menilai bahwa masa depan pemerintahan Iran tinggal menghitung hari.
Hal ini seiring meningkatnya tekanan internasional dan ancaman serangan militer dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ia menyatakan bahwa rezim yang berkuasa di Teheran tidak memiliki legitimasi dan hanya bertahan melalui kekerasan terhadap rakyatnya sendiri.
Hal ini Merz sampaikan dalam konferensi pers bersama Perdana Menteri Rumania Ilie Bolojan pada Rabu (28/1) waktu setempat.
“Rezim yang hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui kekerasan dan teror terhadap penduduknya sendiri: hari-harinya sudah dihitung,” kata Merz.
Merz menambahkan bahwa kejatuhan rezim Iran bisa terjadi dalam waktu dekat.
“Mungkin hanya beberapa minggu lagi, tetapi rezim ini tidak memiliki legitimasi untuk memerintah negara,” tambah Merz.
Ia menilai bahwa tindakan represif yang dilakukan aparat Iran terhadap demonstran telah memperlihatkan wajah asli pemerintahan yang berkuasa.
Kanselir Jerman itu juga menyoroti jumlah korban jiwa yang sangat besar dalam gelombang demonstrasi terbaru di Iran.
“Jumlah korban tewas yang dilaporkan mencapai ribuan selama demonstrasi baru-baru ini. Ini menunjukkan bahwa rezim mullah tampaknya hanya dapat mempertahankan kekuasaan melalui teror semata,” kata Kanselir Jerman tersebut.
Trump Beri Peringatan ke Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran bahwa waktu hampir habis bagi negara itu untuk menghindari intervensi militer AS. Peringatan itu disampaikan setelah Teheran menolak membuka pintu negosiasi di tengah meningkatnya ketegangan
Dilansir AFP, Rabu (28/1/2026), Trump menegaskan dirinya tidak pernah mengesampingkan kemungkinan serangan baru terhadap Iran. Ini menyusul penindakan brutal terhadap gelombang protes bulan ini. Ketegangan juga masih dipicu dampak perang 12 hari pada Juni lalu antara Iran dan Israel yang didukung dan diikuti oleh AS.
“Semoga Iran segera ‘Datang ke Meja Perundingan’ dan menegosiasikan kesepakatan yang adil dan merata -tanpa senjata nuklir. Kesepakatan yang baik untuk semua pihak. Waktu hampir habis, ini benar-benar sangat penting!” kata Trump.
Merujuk pada serangan Amerika terhadap target nuklir Iran selama perang Juni yang menurutnya mengakibatkan “kehancuran besar Iran”, ia menambahkan: “Serangan berikutnya akan jauh lebih buruk! Jangan sampai itu terjadi lagi”.
Para analis mengatakan opsi yang tersedia termasuk serangan terhadap fasilitas militer atau serangan yang ditargetkan terhadap kepemimpinan di bawah Ayatollah Ali Khamenei, dalam upaya skala penuh untuk menjatuhkan sistem yang telah memerintah Iran sejak revolusi Islam 1979 yang menggulingkan shah.
Iran Bantah Trump soal Minta Negosiasi
Otoritas Iran menegaskan bahwa pihaknya tidak meminta negosiasi dengan Amerika Serikat (AS), saat ketegangan antara kedua negara semakin meningkat. Penegasan ini membantah pernyataan Presiden AS Donald Trump, yang beberapa kali mengklaim Teheran menghubungi Washington untuk meminta dialog.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi, seperti dilansir Reuters, Rabu (28/1/2026), mengatakan bahwa dirinya belum melakukan kontak dengan Utusan Khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff, dalam beberapa hari terakhir atau meminta dilakukannya negosiasi.
“Tidak ada kontak antara saya dan Witkoff dalam beberapa hari terakhir, dan tidak ada permintaan untuk negosiasi yang diajukan dari kami,” kata Araghchi saat berbicara kepada media pemerintah Iran, Rabu (28/1) waktu setempat.
(*)


