Prabowo Subianto Sesalkan Alih Fungsi Situs Majapahit Menjadi Pabrik dan Tekankan Pentingnya Akar Budaya

MAGELANG – Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, melontarkan kritik tajam terhadap fenomena pengabaian benda-benda bersejarah yang menjadi saksi bisu kejayaan bangsa di masa lalu. Dalam sebuah kesempatan terbaru, Prabowo mengungkapkan keprihatinan mendalam mengenai kondisi situs-situs peninggalan Kerajaan Majapahit yang kini telah beralih fungsi menjadi kawasan industri atau pabrik. Beliau menegaskan bahwa bangsa yang besar tidak boleh melupakan akar sejarahnya demi mengejar kemajuan ekonomi sesaat yang bersifat destruktif terhadap identitas nasional.
Prabowo memandang bahwa penghormatan terhadap perjuangan para pendahulu harus mewujud dalam tindakan nyata, yakni melalui pelestarian artefak dan situs arkeologi. Menurutnya, pembiaran terhadap kerusakan situs sejarah mencerminkan hilangnya kebanggaan nasional. Fenomena pembongkaran situs Majapahit untuk kepentingan komersial menjadi contoh nyata betapa lemahnya perlindungan terhadap cagar budaya di tanah air. Oleh karena itu, Presiden menginstruksikan jajaran terkait untuk meninjau kembali kebijakan tata ruang yang bersinggungan dengan kawasan bersejarah.
Urgensi Perlindungan Situs Sejarah dari Ekspansi Industri
Ekspansi sektor industri yang tidak terkendali seringkali menabrak zona-zona sensitif arkeologi. Kejadian di situs Majapahit, Jawa Timur, menjadi alarm keras bagi pemerintah pusat maupun daerah. Prabowo mengingatkan bahwa setiap jengkal tanah yang menyimpan jejak peradaban nenek moyang memiliki nilai yang tidak bisa ditukar dengan nilai materiil dari sebuah pabrik. Berikut adalah beberapa poin penting yang ditekankan oleh Presiden terkait isu ini:
- Negara harus hadir dalam menginventarisasi ulang seluruh aset sejarah yang terancam punah akibat pembangunan.
- Sinergi antara Kementerian Kebudayaan dan Kementerian Perindustrian perlu diperkuat agar izin pembangunan tidak melanggar kawasan cagar budaya.
- Masyarakat lokal harus mendapatkan edukasi intensif mengenai nilai ekonomis jangka panjang dari wisata sejarah dibandingkan industri manufaktur di area situs.
- Pemberlakuan sanksi tegas bagi pihak-pihak yang secara sengaja merusak atau menghilangkan benda sejarah demi kepentingan proyek tertentu.
Menjaga Identitas Bangsa di Tengah Arus Modernisasi
Selain menyoroti masalah teknis pelestarian, Presiden Prabowo Subianto juga mengajak masyarakat untuk melakukan refleksi ideologis. Beliau berpendapat bahwa modernisasi tidak seharusnya menghapus memori kolektif bangsa. Sebaliknya, kemajuan teknologi harus mendukung upaya restorasi dan digitalisasi sejarah agar generasi muda tetap terhubung dengan jati dirinya. Sikap kritis ini sejalan dengan komitmen pemerintah dalam memperkuat ketahanan budaya sebagai fondasi pembangunan karakter bangsa.
Sejalan dengan visi Pelestarian Kebudayaan Nasional, pemerintah berencana mengalokasikan anggaran yang lebih representatif untuk pemeliharaan museum dan situs-situs terbuka. Upaya ini merupakan kelanjutan dari langkah strategis yang sebelumnya sempat dibahas dalam artikel mengenai Visi Pembangunan Karakter Bangsa yang menekankan bahwa ekonomi dan budaya harus tumbuh secara beriringan tanpa saling meniadakan.
Sebagai penutup, Prabowo mengingatkan bahwa bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab moral kepada generasi mendatang. Menjaga situs Majapahit bukan sekadar menjaga batu bata atau artefak kuno, melainkan menjaga spirit persatuan nusantara yang pernah dicapai oleh leluhur. Jika sejarah terus digerus oleh kepentingan industri, maka Indonesia berisiko kehilangan kompas nilai di masa depan. Presiden berharap momentum ini menjadi titik balik bagi semua pihak untuk lebih mencintai dan merawat setiap jengkal peninggalan sejarah yang ada di tanah air.


