Advertise with Us

Pemerintah

Menakar Efektivitas Program Gentengisasi Prabowo dari Kacamata Pakar Konstruksi dan Kebencanaan

JAKARTA – Rencana Presiden Prabowo Subianto untuk mengganti seluruh atap seng rumah warga dengan genting memicu gelombang diskusi di kalangan akademisi dan praktisi konstruksi. Kebijakan yang populer dengan sebutan ‘gentengisasi’ ini bertujuan untuk meningkatkan kenyamanan hunian serta estetika kawasan pemukiman di seluruh penjuru Indonesia. Namun, para ahli mengingatkan pemerintah agar tidak terburu-buru mengimplementasikan program ini tanpa kajian teknis yang mendalam dan komprehensif.

Pakar melihat ada ambisi besar dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui standarisasi material bangunan. Meskipun demikian, transisi dari material seng yang ringan ke genting tanah liat atau keramik yang jauh lebih berat menyimpan risiko struktural yang fatal. Pemerintah perlu mempertimbangkan bahwa sebagian besar rumah warga yang saat ini menggunakan seng memiliki struktur penopang yang tidak dirancang untuk beban berat. Jika pemaksaan penggantian material tetap berjalan tanpa penguatan fondasi, risiko bangunan runtuh akan mengancam keselamatan para penghuninya.

Risiko Struktural dan Ancaman Keselamatan Penghuni

Aspek utama yang menjadi sorotan adalah kemampuan struktur bangunan lama dalam menahan beban tambahan. Genting tanah liat memiliki massa yang berkali-kali lipat lebih berat daripada seng atau spandek. Berikut adalah beberapa poin teknis yang menjadi kekhawatiran para ahli konstruksi:

  • Kapasitas Beban Rangka: Sebagian besar rumah sederhana di daerah menggunakan rangka kayu kualitas rendah atau baja ringan tipis yang hanya mampu menopang material ringan.
  • Stabilitas Fondasi: Fondasi rumah eksisting mungkin tidak cukup kuat untuk menahan beban mati tambahan dari genting, yang dapat menyebabkan penurunan tanah secara tidak merata.
  • Kerentanan Gempa: Indonesia berada di wilayah Ring of Fire. Atap yang berat meningkatkan gaya inersia saat gempa terjadi, yang secara signifikan memperbesar peluang rumah untuk roboh total.

Diversitas Arsitektur Nusantara yang Terabaikan

Pengamat arsitektur juga memberikan kritik terhadap upaya penyeragaman atap bangunan di Indonesia. Karakteristik geografis dan budaya Indonesia yang sangat beragam menuntut pendekatan material yang berbeda pula. Di wilayah pesisir dengan suhu panas yang ekstrem, seng memang sering menjadi masalah karena menyerap panas, namun genting juga memerlukan kemiringan sudut tertentu agar tidak bocor saat hujan deras disertai angin kencang.

Pakar menyarankan agar pemerintah lebih fleksibel dalam menentukan jenis material atap sesuai dengan kondisi lokal. Penggunaan material alternatif seperti atap bitumen atau baja ringan berpasir mungkin menjadi solusi jalan tengah yang lebih aman daripada memaksa penggunaan genting tanah liat di seluruh wilayah. Kementerian Pekerjaan Umum seharusnya memetakan terlebih dahulu tipologi bangunan di setiap daerah sebelum mengucurkan anggaran besar untuk pengadaan genting secara masif.


Advertise with Us

Menyoal Keberlanjutan dan Siapa yang Diuntungkan

Program berskala nasional ini tentu membutuhkan anggaran yang fantastis. Analis ekonomi mulai mempertanyakan efektivitas biaya (cost-effectiveness) dari kebijakan ini dibandingkan dengan program renovasi rumah lainnya. Muncul kekhawatiran bahwa program ini hanya akan menguntungkan industri manufaktur genting besar tanpa memberikan dampak jangka panjang terhadap ketahanan bangunan warga. Kebijakan ini harus sinkron dengan artikel kebijakan program 3 juta rumah yang sebelumnya telah dicanangkan untuk memastikan integrasi data kemiskinan dan kebutuhan hunian yang tepat sasaran.

Sebagai langkah strategis, pemerintah sebaiknya mengubah fokus dari sekadar ‘ganti atap’ menjadi ‘audit struktur hunian’. Dengan melakukan audit terlebih dahulu, pemerintah bisa memastikan apakah rumah tersebut memang layak menerima bantuan genting atau justru memerlukan perbaikan struktur menyeluruh. Transparansi dalam pengadaan barang dan keterlibatan tenaga ahli di lapangan menjadi kunci utama agar program gentengisasi ini tidak berakhir menjadi bencana konstruksi masal di masa depan.


Advertise with Us


Advertise with Us

Back to top button
Cari apa wal?
Om Rudi AI
×
Halo buhan gabut! Handak berita apa wal?

Apa mau tanya berita yang lain atau masalah geopolitik yang lagi ramai tulis aja langsung lah?