
KaltimNewsroom.com – Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mulai mematangkan rencana pengalihan penggunaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) 3 kilogram ke Compressed Natural Gas (CNG) sebagai bagian dari upaya meningkatkan efisiensi energi nasional dan mengurangi ketergantungan impor LPG.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak akan menghilangkan subsidi energi bagi masyarakat. Menurutnya, pemerintah tetap berkomitmen menjaga keterjangkauan harga energi, khususnya bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.
Ia menyampaikan bahwa langkah transisi dari LPG ke CNG dilakukan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya perlindungan daya beli masyarakat dalam setiap kebijakan strategis nasional.
“Baik CNG maupun LPG, pemerintah akan tetap mengedepankan kepentingan rakyat. Subsidi tetap menjadi instrumen penting untuk membantu masyarakat yang membutuhkan,” ujar Bahlil.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tetap menempatkan perlindungan sosial sebagai prioritas utama dalam kebijakan energi nasional.
Dorongan Penghematan Impor dan Efisiensi APBN
Pemerintah mendorong konversi LPG ke CNG sebagai langkah untuk mengurangi ketergantungan impor energi.
Saat ini, Indonesia masih mengimpor sekitar 7 juta ton LPG dari total kebutuhan 8,6 juta ton per tahun. Kondisi tersebut membuat negara harus menanggung beban subsidi yang cukup besar, yakni sekitar Rp80 hingga Rp87 triliun per tahun.
Bahlil menjelaskan bahwa pemanfaatan gas domestik melalui CNG dapat membantu menekan pengeluaran negara sekaligus meningkatkan efisiensi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Ia juga menilai kondisi harga minyak dunia turut memengaruhi besaran subsidi yang harus ditanggung pemerintah.
Pemerintah saat ini telah memulai uji coba penggunaan CNG dalam kemasan tabung 3 kilogram yang selama ini identik dengan LPG bersubsidi. Program ini bertujuan untuk memastikan kesiapan infrastruktur, distribusi, serta keamanan penggunaan di tingkat rumah tangga.
Bahlil menegaskan bahwa pemerintah tidak akan terburu-buru dalam menerapkan kebijakan ini secara nasional.
Ia menekankan pentingnya hasil uji coba yang benar-benar aman dan layak digunakan masyarakat sebelum implementasi lebih luas dilakukan.
Harga Dipastikan Tidak Lebih Mahal dari LPG
Pemerintah juga menaruh perhatian besar pada aspek harga dalam transisi ini. Bahlil memastikan bahwa harga CNG untuk tabung 3 kilogram tidak akan melampaui harga LPG yang saat ini beredar di masyarakat.
“(harganya di bawah LPG 3kg) doakan seperti itu ya. Minimal sama,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga energi rumah tangga meskipun terjadi perubahan sistem distribusi dan sumber energi.
Rencana penggantian LPG 3 kg dengan CNG menunjukkan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat pemanfaatan energi domestik.
Namun, pemerintah menegaskan bahwa setiap langkah transisi tetap harus menjaga keterjangkauan harga dan melindungi masyarakat berpenghasilan rendah melalui skema subsidi yang berkelanjutan.
(*)


