
KALTIMNEWSROOM.COM – Rusia menyebut situasi terkini di sekitar Greenland sebagai kondisi yang sangat kontroversial dan tidak biasa dari perspektif hukum internasional.
Penilaian ini muncul di tengah ambisi Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk menguasai pulau strategis di kawasan Arktik tersebut, yang memicu kekhawatiran negara-negara Eropa dan mendorong pengerahan pasukan ke wilayah otonomi Denmark itu.
Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov menegaskan bahwa Rusia mengakui status hukum Greenland sebagai bagian dari Kerajaan Denmark.
Ia menyampaikan pernyataan itu dalam konferensi pers di Moskow pada Jumat (16/1) waktu setempat.
“Kami berangkat dari pemahaman bahwa Greenland adalah wilayah Kerajaan Denmark,” ujar Peskov kepada wartawan.
Moskow Pantau Perkembangan dengan Cermat
Peskov mengatakan Rusia terus memantau perkembangan situasi di sekitar Greenland.
Ia menekankan bahwa pemerintah Denmark dan otoritas Greenland telah berulang kali menyatakan tidak memiliki niat untuk menjual pulau tersebut kepada negara mana pun.
Namun, Peskov juga mengungkapkan bahwa Moskow mendengar pernyataan dari pihak Amerika Serikat yang merumuskan kemungkinan penawaran moneter untuk mengakuisisi Greenland dalam satu bentuk atau lainnya.
Menurutnya, pernyataan tersebut membuat situasi berkembang ke arah yang tidak biasa.
“Situasinya berkembang ke arah yang berbeda, dan dunia akan melihat ke mana arah perkembangan itu,” kata Peskov.
Trump Kembali Dorong Penguasaan Greenland
Dalam beberapa waktu terakhir, Presiden AS Donald Trump kembali menyuarakan keinginannya untuk mengambil alih Greenland.
Trump bahkan menyatakan tidak menutup kemungkinan penggunaan kekuatan militer jika diperlukan untuk mewujudkan ambisi tersebut.
Trump mengklaim Amerika Serikat membutuhkan Greenland karena kekayaan mineralnya dan posisinya yang strategis di Arktik.
Ia juga menuding Denmark tidak berbuat cukup banyak untuk menjamin keamanan pulau itu dari aktivitas Rusia dan China yang disebutnya meningkat.
Eropa Tegaskan Dukungan untuk Denmark
Pernyataan Trump memicu reaksi keras dari Denmark, Greenland, dan negara-negara Eropa.
Pemerintah Denmark dan otoritas Greenland kembali menegaskan bahwa pulau tersebut bukan untuk dijual dan tetap berada di bawah kedaulatan Denmark.
Sejumlah negara Eropa, termasuk Inggris, Prancis, Jerman, Finlandia, Belanda, Norwegia, dan Swedia, menyatakan dukungan penuh kepada Denmark.
Negara-negara tersebut juga mengumumkan pengerahan sejumlah kecil personel militer ke kawasan Arktik untuk persiapan latihan di masa mendatang.
Rusia Perkuat Pertahanan Arktik
Menanggapi perkembangan tersebut, Kementerian Luar Negeri Rusia menyatakan akan terus memperkuat kemampuan pertahanan di kawasan Arktik.
Moskow menyebut eskalasi yang terjadi tidak dapat dibenarkan, terutama jika didasarkan pada tuduhan mengenai aktivitas Rusia dan China di sekitar Greenland.
Rusia menilai tuduhan tersebut tidak dapat diterima dan menegaskan bahwa kawasan Arktik seharusnya tetap menjadi wilayah stabilitas, bukan arena konfrontasi geopolitik baru. (*)


