Banjir Besar Sumatra Rendam 824 Ribu Hewan Ternak Mentan Amran Sulaiman Instruksikan Penanganan Darurat

JAKARTA – Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengonfirmasi laporan memprihatinkan terkait kondisi sektor peternakan di wilayah Sumatra. Sebanyak lebih dari 824 ribu ekor hewan ternak dilaporkan terdampak bencana banjir yang melanda kawasan utara dan tengah Pulau Sumatra sejak akhir November 2025. Dari jumlah masif tersebut, komoditas unggas menjadi kelompok yang paling banyak terdampak, memicu kekhawatiran akan stabilitas pasokan pangan di penghujung tahun.
Dalam keterangan resminya, Mentan Amran menjelaskan bahwa luapan air yang terjadi dalam skala besar telah merendam ribuan fasilitas kandang dan area penggembalaan. Kondisi ini membuat para peternak kesulitan melakukan evakuasi tepat waktu, mengingat kecepatan debit air yang meningkat drastis di beberapa titik kritis. Wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat dilaporkan menjadi titik dengan dampak kerusakan paling signifikan pada populasi ternak rakyat.
Data yang dihimpun oleh tim lapangan menunjukkan bahwa dari 824 ribu ekor tersebut, sebagian besar merupakan ayam potong dan petelur. Sisanya mencakup hewan ternak besar seperti sapi, kerbau, dan kambing. “Kami sudah menerima laporan detailnya, dan angka 824 ribu ini adalah jumlah yang sangat besar bagi ketahanan ekonomi peternak kita di Sumatra. Fokus utama kami saat ini adalah menyelamatkan yang masih bisa diselamatkan serta memberikan bantuan pakan darurat,” ujar Amran Sulaiman saat meninjau laporan koordinasi bencana di pusat data Kementerian Pertanian.
Krisis ini diprediksi akan memicu efek domino pada harga komoditas hewani di pasar lokal. Kehilangan ratusan ribu unggas dalam waktu singkat otomatis memutus rantai distribusi telur dan daging ayam. Untuk mengantisipasi kelangkaan, pemerintah tengah mengkaji mobilisasi pasokan dari wilayah yang tidak terdampak banjir guna menekan potensi inflasi pangan. Anda juga dapat membaca laporan terkait dampak banjir Sumatra terhadap sektor perkebunan untuk mendapatkan gambaran kerugian yang lebih luas.
Selain kerugian langsung akibat kematian hewan, ancaman penyakit pascabanjir kini menghantui peternak yang selamat. Genangan air kotor meningkatkan risiko penyebaran wabah penyakit hewan menular. Oleh karena itu, Kementerian Pertanian telah menginstruksikan jajaran Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan untuk segera menyalurkan vaksin, obat-obatan, serta desinfektan ke lokasi terdampak.
Langkah jangka panjang juga mulai disusun, termasuk skema ganti rugi atau bantuan bibit baru bagi peternak yang mengalami kerugian total. Mentan menegaskan bahwa pemerintah tidak akan tinggal diam melihat tulang punggung ekonomi kerakyatan di daerah hancur akibat bencana alam. Koordinasi dengan pemerintah daerah terus ditingkatkan untuk memvalidasi data penerima bantuan agar proses pemulihan sektor peternakan di Sumatra dapat berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.


