Dunia Arkeologi Berduka Gabriel Barkay Sang Penemu Bukti Tertua Alkitab Tutup Usia

YERUSALEM – Dunia ilmu pengetahuan dan sejarah kuno kehilangan salah satu tokoh paling berpengaruh setelah Gabriel Barkay, arkeolog ternama asal Israel, dilaporkan meninggal dunia pada usia 81 tahun. Barkay bukan sekadar akademisi biasa; ia adalah sosok yang berhasil mengguncang fondasi sejarah biblika melalui penemuan-penemuan fenomenalnya yang memaksa para sejarawan untuk menulis ulang garis waktu penulisan Alkitab Perjanjian Lama.
Sepanjang kariernya yang gemilang, Barkay dikenal karena ketelitian dan insting tajamnya dalam menggali lapisan tanah Yerusalem. Namun, pencapaian yang paling melambungkan namanya ke panggung dunia adalah penemuan dua gulungan perak kecil di sebuah situs pemakaman kuno di Ketef Hinnom pada tahun 1979. Penemuan ini dianggap sebagai salah satu terobosan arkeologi paling signifikan di abad ke-20 karena berisi teks Alkitab tertua yang pernah ditemukan, jauh lebih tua daripada gulungan Laut Mati yang terkenal.
Penemuan tersebut terjadi secara tidak sengaja ketika seorang asisten muda berusia 13 tahun sedang membersihkan ruang pemakaman kuno. Di sana, Barkay menemukan dua jimat perak kecil yang tergulung sangat rapat. Butuh waktu tiga tahun bagi para ahli di Israel Museum untuk membuka gulungan tersebut tanpa merusaknya. Setelah berhasil dibuka, dunia terkejut menemukan kutipan dari Kitab Bilangan, yaitu Berkat Imamat yang berbunyi: ‘Tuhan memberkati engkau dan melindungi engkau’.
Sebelum penemuan Barkay, banyak sejarawan beraliran kritis berpendapat bahwa sebagian besar teks Alkitab baru ditulis pada periode Persia atau Hellenistik, berabad-abad setelah peristiwa yang mereka ceritakan terjadi. Namun, gulungan perak yang ditemukan Barkay berasal dari akhir abad ke-7 SM, sebelum penghancuran Yerusalem oleh bangsa Babilonia. Hal ini membuktikan bahwa tradisi tertulis Alkitab sudah ada jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya oleh para akademisi sekuler. Penemuan ini memberikan landasan arkeologis yang kuat bagi keaslian teks-teks kuno dalam narasi sejarah dunia.
Selain sukses di Ketef Hinnom, Barkay juga merupakan pionir dalam Proyek Penyaringan Bukit Bait Suci (Temple Mount Sifting Project). Proyek ambisius ini lahir dari keprihatinannya atas penghancuran artefak bersejarah saat terjadi renovasi di bawah area Masjid Al-Aqsa oleh otoritas wakaf setempat. Dengan dedikasi tinggi, ia mengajak ribuan sukarelawan untuk menyaring sisa-sisa tanah yang dibuang, hingga berhasil menemukan ribuan kepingan berharga mulai dari koin kuno hingga segel resmi dari zaman raja-raja Yehuda.
Barkay sering dikritik oleh pihak-pihak yang tidak setuju dengan metode investigasinya yang vokal, namun ia tidak pernah mundur dalam mempertahankan integritas ilmiahnya. Kematiannya meninggalkan lubang besar dalam komunitas arkeologi internasional. Ia telah membuktikan bahwa arkeologi bukan sekadar menggali batu dan debu, melainkan upaya mencari kebenaran identitas manusia yang terkubur oleh waktu. Laporan mendalam mengenai perjalanan hidupnya dapat dibaca di The New York Times yang merinci bagaimana dedikasinya mengubah wajah ilmu pengetahuan Alkitab selamanya.
Meskipun sosoknya kini telah tiada, warisan ilmiah Barkay akan terus hidup melalui setiap lembar naskah biblika yang kini dipandang dengan perspektif baru. Ia tidak hanya menemukan benda mati, ia menghidupkan kembali suara-suara dari masa lalu yang telah lama bungkam, memberikan bukti fisik bahwa teks-teks suci yang kita kenal hari ini memiliki akar sejarah yang jauh lebih dalam dan tangguh daripada yang pernah dibayangkan oleh para kritikus sejarah modern.


