Investasi Nasional Menguat, Kaltim Masuk Enam Besar dengan Realisasi Rp70,43 Triliun

Kaltimnewsroom.com – Arus investasi nasional sepanjang 2025 menunjukkan dinamika positif, dengan Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) berhasil menembus enam besar daerah dengan realisasi investasi tertinggi di Indonesia. Hingga triwulan III 2025, nilai investasi yang masuk ke Kaltim tercatat mencapai Rp70,43 triliun, menempatkan provinsi ini sebagai salah satu motor pertumbuhan ekonomi di luar Pulau Jawa.
Capaian tersebut menempatkan Kaltim di bawah lima provinsi dengan realisasi investasi terbesar, yakni Jawa Barat, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sulawesi Tengah, dan Banten. Meski berada di peringkat keenam, Kaltim tetap menunjukkan daya tarik kuat di tengah persaingan investasi nasional yang semakin ketat.
Berdasarkan data Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kalimantan Timur), Jawa Barat masih memimpin realisasi investasi nasional dengan nilai Rp218,17 triliun. Posisi berikutnya ditempati DKI Jakarta sebesar Rp204,15 triliun, disusul Jawa Timur Rp105,09 triliun, Sulawesi Tengah Rp97,6 triliun, dan Banten Rp91,58 triliun.
PMDN Dominasi Investasi Kaltim
Kepala DPMPTSP Kaltim, Fahmi Prima Laksana, menjelaskan bahwa kontribusi terbesar investasi di Kaltim masih berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN). Dari total realisasi Rp70,43 triliun, PMDN menyumbang Rp55,9 triliun, sementara Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat sebesar Rp14,53 triliun.
Fahmi menilai dominasi PMDN menunjukkan kepercayaan pelaku usaha domestik terhadap iklim investasi di Kalimantan Timur. Menurutnya, stabilitas daerah, ketersediaan sumber daya, serta dukungan kebijakan pemerintah menjadi faktor utama yang mendorong investasi terus mengalir.
“Target investasi Kaltim tahun 2025 sebesar Rp76,02 triliun optimistis tercapai, bahkan berpeluang melampaui target. Namun nilai final triwulan IV masih dalam proses penghitungan,” ujar Fahmi di Samarinda, Sabtu (10/1), dikutip dari Antara.
Ia menegaskan bahwa realisasi investasi tersebut tidak hanya berdampak pada angka pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga memberikan efek langsung terhadap kehidupan masyarakat.
Dorong Pertumbuhan Ekonomi dan Lapangan Kerja
Masuknya investasi, menurut Fahmi, mendorong penciptaan lapangan kerja baru serta meningkatkan aktivitas ekonomi lokal. Kehadiran proyek-proyek investasi turut menggerakkan sektor pendukung, mulai dari jasa, transportasi, hingga perdagangan.
Fahmi menambahkan, investasi yang masuk ke Kaltim juga memperkuat struktur ekonomi daerah. Proyek-proyek baru memicu tumbuhnya usaha kecil dan menengah di sekitar kawasan investasi, sehingga efek bergandanya dapat dirasakan secara lebih luas.
Selain itu, keberadaan Ibu Kota Nusantara (IKN) di wilayah Kalimantan Timur disebut menjadi faktor pengungkit penting bagi minat investor. Pembangunan IKN tidak hanya menarik investasi langsung di kawasan inti, tetapi juga mendorong proyek strategis nasional di wilayah penyangga.
Sektor Pertambangan Masih Mendominasi
Dari sisi sektor usaha PMDN, pertambangan masih menjadi penyumbang investasi terbesar di Kaltim dengan nilai Rp21,25 triliun. Posisi berikutnya ditempati industri kimia dasar, barang kimia, dan farmasi sebesar Rp8,57 triliun.
Sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan juga mencatat kontribusi signifikan dengan nilai Rp7,21 triliun. Capaian ini menunjukkan bahwa sektor non-tambang mulai memperkuat perannya dalam struktur investasi daerah.
Sektor lain yang turut menyumbang investasi antara lain jasa lainnya sebesar Rp4,58 triliun, transportasi dan pergudangan Rp3,55 triliun, industri makanan Rp3,1 triliun, serta perdagangan dan reparasi Rp2,42 triliun. Adapun sektor perumahan dan kawasan industri mencatat nilai investasi Rp1,31 triliun.
PMA Fokus pada Tambang dan Industri Pengolahan
Sementara itu, dari sisi PMA, investasi di Kaltim juga masih didominasi sektor pertambangan dengan nilai Rp3,63 triliun. Sektor industri kertas dan percetakan menyusul dengan investasi Rp2,51 triliun, diikuti industri makanan sebesar Rp2,19 triliun.
Sektor tanaman pangan, perkebunan, dan peternakan kembali muncul sebagai sektor strategis dengan nilai PMA mencapai Rp1,76 triliun. Komposisi ini menunjukkan minat investor asing yang mulai melirik sektor berbasis pengolahan dan ketahanan pangan.
Arah Hilirisasi Mulai Terlihat
Menurut Fahmi, struktur investasi tersebut menegaskan bahwa ekonomi Kalimantan Timur masih bertumpu pada sektor berbasis sumber daya alam. Namun, ia menilai arah investasi mulai bergerak ke hilirisasi dan industri pengolahan.
Perkembangan ini sejalan dengan kebijakan pemerintah pusat yang mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Fahmi optimistis, dengan dukungan infrastruktur dan proyek IKN, Kaltim akan semakin menarik bagi investor yang bergerak di sektor industri bernilai tambah tinggi.
Dengan realisasi Rp70,43 triliun hingga triwulan III, Kalimantan Timur menegaskan posisinya sebagai salah satu daerah strategis dalam peta investasi nasional, sekaligus memperkuat perannya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru Indonesia.
(Redaksi)


