Iran Ajukan 5 Syarat Akhiri Perang, Minta Pengakuan Selat Hormuz dan Hentikan Agresi AS-Israel

KALTIMNEWSROOM.COM – Iran mengambil langkah tegas dalam merespons eskalasi konflik di Timur Tengah. Pemerintah di Teheran menolak proposal gencatan senjata dari Amerika Serikat dan justru mengajukan syarat tandingan untuk mengakhiri perang.
Melalui pernyataan resmi, Iran menegaskan hanya akan menghentikan konflik jika seluruh tuntutannya dipenuhi, termasuk pengakuan kedaulatan atas Selat Hormuz.
Iran Tegaskan Tidak Akan Ikuti Tekanan AS
Pernyataan keras disampaikan melalui Konsulat Jenderal Iran di Mumbai. Yang mendakan bahwa Iran menolak campur tangan waktu penghentian perang oleh pihak luar.
“Iran akan mengakhiri perang pada waktu yang dipilihnya sendiri dan hanya jika syarat-syarat yang telah ditetapkannya terpenuhi. Iran tidak akan membiarkan Presiden AS Donald Trump menentukan waktu berakhirnya perang,” demikian pernyataan tersebut, dikutip AP, Kamis (26/3/2026).
Sikap ini menunjukkan posisi Iran yang tetap keras di tengah tekanan internasional.
Lima Syarat Iran untuk Mengakhiri Konflik
Iran mengajukan lima tuntutan utama sebagai prasyarat penghentian perang, yaitu:
- Penghentian seluruh tindakan agresi oleh AS dan Israel
- Jaminan bahwa serangan terhadap Iran tidak akan terulang
- Pembayaran ganti rugi dan reparasi perang kepada Iran
- Penghentian perang di semua front yang melibatkan kelompok perlawanan
- Pengakuan kedaulatan Iran atas Selat Hormuz
Tuntutan ini menegaskan posisi strategis Iran dalam konflik, khususnya terkait jalur energi global di Selat Hormuz.
Iran Ancam Lanjutkan Serangan di Kawasan
Seorang pejabat Iran yang tidak disebutkan namanya menyatakan negaranya siap melanjutkan serangan.
Ia menyebut Iran akan terus memberikan “pukulan berat” terhadap target di kawasan jika konflik tidak segera dihentikan.
Dalam beberapa hari terakhir, Iran dilaporkan telah menyerang Bandara Internasional Kuwait dan sejumlah target lain di kawasan Teluk Persia.
Konflik Memanas, AS dan Israel Terus Lakukan Serangan
Di sisi lain, AS dan Israel tetap melanjutkan operasi militer. Serangan terbaru menargetkan infrastruktur energi Iran.
Pada saat yang sama, Israel meluncurkan serangan udara sebagai bagian dari operasi ofensif lanjutan.
Sebelumnya, AS mengajukan proposal gencatan senjata 15 poin. Proposal itu mencakup pembatasan program nuklir Iran, pengendalian rudal, serta pembukaan Selat Hormuz secara bersyarat.
Namun, Iran menolak proposal tersebut karena dinilai tidak mengakomodasi kepentingan utamanya.
Negosiasi Masih Terbuka, Negara Lain Siap Menengahi
Iran menyebut tuntutan terbaru berbeda dari pembahasan dalam pertemuan di Jenewa pada Februari lalu. Saat itu, negosiasi antara Iran dan AS berjalan progresif, tetapi gagal mencapai kesepakatan.
Teheran kini mendorong Wakil Presiden AS untuk kembali membuka jalur diplomasi. Iran juga menilai beberapa utusan AS sebelumnya tidak dapat dipercaya.
Sejumlah negara seperti Mesir, Pakistan, dan Turki diperkirakan akan berperan sebagai mediator dalam upaya meredakan konflik.
AS Siapkan Tambahan Pasukan ke Timur Tengah
Di tengah situasi yang memanas, militer AS bersiap memperkuat kehadiran di kawasan. Pentagon merencanakan pengerahan sekitar 2.000 hingga 3.000 tentara tambahan dari Divisi Lintas Udara ke-82.
Langkah ini menandakan konflik berpotensi terus meningkat jika tidak segera menemukan titik temu.
Ketegangan yang terus berlanjut membuat dunia menanti apakah jalur diplomasi masih bisa menghentikan konflik atau justru memperluas eskalasi di Timur Tengah.
(Redaksi)


