Iran Tegas: Selat Hormuz Tak Akan Dibuka Selama AS Blokade Pelabuhan

KALTIMNEWSROOM.COM – Pemerintah Iran menegaskan tidak akan membuka kembali Selat Hormuz selama Amerika Serikat masih melakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan mereka. Pernyataan ini mempertegas sikap keras Teheran di tengah ketegangan yang belum mereda.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyampaikan keputusan tersebut secara terbuka. Ia menilai tindakan Amerika Serikat melanggar kesepakatan gencatan senjata yang sebelumnya telah disepakati kedua pihak.
Iran Nilai AS Langgar Gencatan Senjata
Ghalibaf menegaskan, pembukaan Selat Hormuz tidak mungkin dilakukan selama blokade masih berlangsung. Ia menyebut langkah militer Amerika Serikat sebagai pelanggaran serius terhadap komitmen damai.
“Gencatan senjata lengkap hanya memiliki arti jika tidak dilanggar melalui blokade angkatan laut. Membuka kembali Selat Hormuz tidak mungkin di tengah pelanggaran terang-terangan terhadap gencatan senjata,” ujarnya, Kamis (23/4/2026).
Ia menekankan, Iran akan mempertahankan kebijakan tersebut sampai situasi berubah.
AS Tetap Lanjutkan Blokade Pelabuhan Iran
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, justru memutuskan untuk melanjutkan blokade militer terhadap Iran meski memperpanjang gencatan senjata.
Trump menyatakan militer AS tetap siaga dan terus menjalankan kebijakan tekanan terhadap Teheran.
“Saya telah mengarahkan militer kami untuk melanjutkan blokade dan, dalam segala hal lainnya, tetap siap dan mampu,” kata Trump, Rabu (22/4).
Gencatan Senjata Diperpanjang Tanpa Batas Waktu
Trump menjelaskan, pemerintah AS memperpanjang masa gencatan senjata yang sebelumnya dimulai pada 7 April. Ia tidak menetapkan batas waktu baru dalam perpanjangan tersebut.
“Dengan demikian, kami akan memperpanjang gencatan senjata sampai proposal mereka diajukan dan diskusi diselesaikan dengan satu atau lain cara,” jelasnya.
AS Tunggu Iran Ajukan Proposal Negosiasi
Trump juga menyoroti kondisi politik internal Iran yang dinilai tidak solid. Ia menyebut pemerintah Iran masih terpecah, sehingga belum mampu menyampaikan sikap resmi dalam negosiasi.
Ia mengaku menunggu Iran mengirimkan proposal terpadu dalam perundingan lanjutan yang direncanakan berlangsung di Pakistan.
“Berdasarkan fakta bahwa Pemerintah Iran sangat terpecah belah, dan atas permintaan Marsekal Lapangan Asim Munir serta Perdana Menteri Shehbaz Sharif dari Pakistan, kami diminta menunda serangan sampai para pemimpin Iran dapat mengajukan proposal yang terpadu,” ujarnya.
Ketegangan Selat Hormuz Masih Tinggi
Sikap saling tekan antara Iran dan Amerika Serikat membuat situasi di kawasan Selat Hormuz tetap tegang. Jalur strategis ini memiliki peran penting dalam distribusi energi global, sehingga setiap kebijakan yang diambil kedua negara berpotensi berdampak luas.
Dengan kondisi saat ini, peluang pembukaan Selat Hormuz masih tertutup selama kedua pihak belum mencapai kesepakatan yang jelas dalam negosiasi.
(Redaksi)
