Advertise with Us

Daerah

Irigasi Belum Optimal, Swasembada Pangan Samarinda Utara Terkendala

KALTIMNEWSROOM.COM – Target swasembada pangan yang dicanangkan pemerintah pusat berbenturan dengan realitas lapangan di Samarinda Utara. Sawah tadah hujan di wilayah ini berulang kali terendam banjir sepanjang 2025, menekan hasil panen dan memperbesar risiko kerugian petani.

Sepanjang dua musim tanam 2025, petani di kawasan Betapus dan sekitarnya harus berhadapan dengan curah hujan tinggi yang tidak menentu. Air kerap menggenangi sawah dalam waktu lama, sehingga petani kesulitan menentukan waktu tanam yang tepat. Meski tetap melakukan penanaman, hasil panen tidak sesuai harapan.

Dua Kali Tanam, Swasembada Pangan  Turun

Pada musim tanam kedua, petani masih mampu memanen padi. Namun produktivitasnya mengalami penurunan signifika jika perbandingan dengan kondisi normal. Hasil panen yang rendah membuat petani harus menghitung ulang biaya produksi yang sejak awal sudah keluar.

Manajer Brigade Pangan Suluh Manuntung, Adung KS Utomo, menilai kondisi tersebut menjadi pukulan berat bagi petani. Ia menegaskan bahwa penurunan hasil panen tidak disebabkan kelalaian petani, melainkan faktor alam dan dukungan sistem pertanian yang belum memadai.

“Dua kali tanam, dua-duanya bermasalah. Panen ada, tapi hasilnya jauh turun,” ujar Adung, Rabu (14/1/2026).


Advertise with Us

Brigade Pangan Tetap Bergerak di Tengah Kendala

Di Kota Samarinda, pemerintah membentuk dua Brigade Pangan untuk memperkuat produksi beras lokal. Brigade Pangan Suluh Manuntung beroperasi di Samarinda Utara, sementara Brigade Pangan Afnan Sejahtera menjalankan peran serupa di Kecamatan Sambutan.

Meski menghadapi berbagai kendala, Adung memastikan program Brigade Pangan Suluh Manuntung tetap berjalan. Petani telah menerima sejumlah bantuan dari pemerintah, mulai dari alat dan mesin pertanian, kapur lahan, benih padi, hingga obat-obatan pertanian.

“Alhamdulillah, bantuan hampir seluruhnya sudah kami terima dan dimanfaatkan,” katanya.


Advertise with Us

Namun, ia mengakui masih ada dukungan penting yang belum terealisasi, yakni mesin kombain dan drone pertanian. Kedua alat tersebut penting untuk meningkatkan efisiensi panen dan pemantauan lahan. Berdasarkan informasi terakhir, bantuan tersebut baru akan disalurkan pada 2026.

Irigasi dan Waduk Belum Dukung Produksi Optimal

Saat ini, Brigade Pangan Suluh Manuntung mengelola lahan seluas 210 hektare yang tersebar di Kelurahan Lempake, Tanah Merah, dan Sempaja Utara. Seluruh lahan ditanami padi varietas Mie Kongga, yang dikenal memiliki kualitas rasa beras baik meski produktivitasnya tidak setinggi varietas unggulan seperti Impari 32.

Sepanjang 2025, rata-rata produksi padi berada di kisaran 3,5–4 ton per hektare. Di Tanah Merah, target produksi dipatok lebih tinggi, yakni 4–5,5 ton per hektare, sementara di Lempake masih berkisar 3–4 ton per hektare.

Menurut Adung, capaian 7–8 ton per hektare sudah tergolong sangat baik untuk sawah tadah hujan. Namun, capaian tersebut mensyaratkan pengelolaan air yang stabil. Hingga kini, sawah di Samarinda Utara masih sepenuhnya bergantung pada hujan, sementara jaringan irigasi belum mampu mengatur suplai air secara optimal. Waduk Benanga yang diharapkan menjadi penopang kebutuhan air juga belum bisa diandalkan sepenuhnya.

“Kadang padi harus dikeringkan, tapi hujan terus turun. Saat tanaman butuh air, justru tidak tersedia,” jelasnya.

Kendala Swasembada Pangan : Distribusi Pupuk dan Risiko Ekonomi Petani

Selain persoalan cuaca dan irigasi, distribusi pupuk juga memengaruhi dari swasembada pangan ini. Meski stok pupuk mencukupi, penyalurannya sering tidak tepat waktu dan tidak sesuai fase pertumbuhan tanaman.

“Usia padi 7 sampai 10 hari itu masa penting untuk pemupukan. Kalau terlambat, hasilnya pasti turun,” ujar Adung.

Risiko gagal panen berdampak langsung pada kondisi ekonomi petani. Biaya tanam per hektare berkisar Rp10–12 juta. Ketika puluhan hektare sawah terendam banjir, kerugian petani pun membesar. Pada panen ketiga situasi tidak menguntungkan, saat sebagian gabah tidak terserap Bulog sehingga petani harus menjualnya ke penggilingan secara mandiri.

“Yang dibutuhkan petani itu kepastian harga dan pasar. Tanpa itu, semangat menanam bisa menurun,” tegasnya.

Regenerasi Petani Masih Jadi Tantangan

Dari sisi sumber daya manusia, Brigade Pangan Suluh Manuntung beranggotakan 15 orang, dengan mayoritas petani berusia di atas 50 tahun. Regenerasi petani muda masih menjadi tantangan serius dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan.

“Program Brigade Pangan ini sebenarnya untuk menarik minat anak muda. Konsepnya bagus, tapi perlu dukungan bersama,” kata Adung.

Menghadapi musim tanam yang sedang berjalan, ia mengaku belum berani memasang target tinggi. Perkiraan panen berlangsung bertahap mulai awal Maret. Adung menegaskan bahwa keberhasilan swasembada pangan tidak hanya bergantung pada jumlah produksi, tetapi juga pada keseriusan menyelesaikan persoalan mendasar di lapangan.

“Kalau ada kegagalan, kita harus tahu penyebabnya dan mendorong solusinya ke pemerintah,” pungkasnya.

(Redaksi)


Advertise with Us

Back to top button