Advertise with Us

Pemerintah

Jelang Muktamar NU ke-35 Mengarah ke Tiga Poros Besar, Perebutan Posisi Ketua Mengemuka ke Publik

KALTIMNEWSROOM.COM – Peta kekuatan menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) mulai terlihat. Tiga poros besar kini bergerak aktif menggalang dukungan, menandai kontestasi yang tidak hanya soal figur, tetapi juga arah masa depan organisasi.

Tiga Kekuatan Berebut Pengaruh di Internal NU

Direktur Eksekutif Institute for Strategy and Political Studies (INTRAPOLS), Bustomi Menggugat, menilai dinamika Muktamar NU 2026 menunjukkan persaingan yang semakin kompleks.

“Ini sudah seperti ‘perang tiga poros’. Ada yang bermain di level kekuasaan, ada yang di birokrasi, dan ada yang kembali menguatkan basis pesantren. Semuanya sedang bergerak,” ujarnya di Surabaya, Senin (27/4/2026).

Ia menjelaskan, masing-masing poros kini intens melakukan konsolidasi di tingkat wilayah (PWNU) dan cabang (PCNU).

Poros pertama bertumpu pada figur petahana, Yahya Cholil Staquf. Kelompok ini mengandalkan capaian digitalisasi organisasi serta kiprah global NU, termasuk keterlibatan dalam forum internasional seperti R20. Namun, kritik terhadap sentralisasi organisasi terus mengemuka.


Advertise with Us

Poros kedua mengerucut pada Menteri Agama, Nasaruddin Umar, yang dinilai memiliki akses kuat ke lingkar kekuasaan dan menawarkan stabilitas hubungan antara NU dan pemerintah.

“Poros ini kuat di jalur komunikasi dengan kekuasaan. Mereka menawarkan stabilitas dan sinergi,” kata Bustomi.

Poros ketiga muncul dari kalangan kultural dan akar rumput. Tokoh seperti Marzuqi Mustamar dan Abdussalam Shobih aktif membangun dukungan dengan narasi kembali ke pesantren dan penguatan otonomi cabang.


Advertise with Us

“Mereka bermain di wilayah emosional dan ideologis. Basisnya kuat di akar rumput karena pendekatannya lebih langsung,” tegasnya.

Isu Tambang Perkuat Polarisasi

Bustomi menilai isu pengelolaan konsesi tambang oleh PBNU ikut memperkuat polarisasi antarporos. Sejumlah wilayah dengan sumber daya alam besar mulai bersikap lebih kritis.

“Isu tambang ini membelah. Ada yang melihatnya sebagai peluang kemandirian, tapi ada juga yang khawatir terhadap dampak sosial dan lingkungan,” ujarnya.

Ia menambahkan, tiga isu utama akan menentukan pilihan di tingkat bawah, yakni aspek finansial organisasi, netralitas politik menuju Pilpres 2029, serta kesejahteraan pengurus daerah.

“Yang menentukan nanti bukan hanya narasi besar, tapi siapa yang mampu menjawab kebutuhan riil di bawah,” katanya.

Pertarungan Digital hingga Ancaman Politik Uang

Selain konsolidasi langsung, pertarungan juga merambah ruang digital. Bustomi memprediksi penggunaan data, survei, dan konten visual akan semakin masif untuk membentuk opini publik.

“Ruang digital akan jadi arena baru. Persepsi bisa dibentuk lewat data, tapi juga bisa dimanipulasi,” ujarnya.

Ia juga menyoroti potensi praktik politik uang dalam momentum Muktamar. Menurutnya, transparansi publik menjadi kunci menjaga integritas forum.

“Harus ada keberanian untuk menolak dan mengungkap praktik money politics. Kalau perlu, viralkan agar ada efek jera,” tegasnya.

Muktamar Jadi Penentu Arah NU

Bustomi menegaskan, Muktamar ke-35 NU akan menentukan arah besar organisasi, apakah tetap bergerak dengan pola yang lebih terpusat atau kembali menguatkan basis kultural dari bawah.

“Ini bukan sekadar kontestasi elite. Ini soal masa depan NU,” tandasnya.

(Redaksi)


Advertise with Us

Back to top button