Advertise with Us

Pemerintahan

Dibalik Kegagalan Monorel Jakarta Era Sutiyoso yang Kini Hanya Menjadi Monumen Beton

JAKARTA – Pemandangan tiang-tiang beton yang berjejer bisu di kawasan Kuningan dan Senayan hingga kini menjadi saksi bisu kegagalan ambisi besar transportasi masal di Jakarta. Mantan Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, kembali membuka suara terkait proyek monorel yang kini berakhir mangkrak dan hanya menyisakan kerangka tak bertuan. Meskipun diklaim telah melibatkan pakar transportasi dan melakukan studi banding hingga ke Kolombia, kenyataan pahit di lapangan menunjukkan bahwa perencanaan matang di atas kertas tidak selamanya berjalan mulus saat berbenturan dengan realitas ekonomi dan dinamika politik.

Sutiyoso mengungkapkan bahwa ide pembangunan monorel dan TransJakarta sebenarnya lahir dari kegelisahan yang sama, yakni kemacetan Jakarta yang sudah berada di titik nadir pada awal tahun 2000-an. Berbekal studi banding ke Bogota, Kolombia, pria yang akrab disapa Bang Yos ini berhasil mengadopsi sistem Bus Rapid Transit (BRT). Namun, nasib berbeda dialami oleh monorel. Proyek yang digadang-gadang menjadi solusi modern ini justru terhenti di tengah jalan, menyisakan tiang-tiang beton yang kini hanya dianggap sebagai sampah visual kota.

Kritik tajam sering kali dialamatkan pada aspek pendanaan dan pemilihan mitra swasta pada masa itu. Analisis mendalam menunjukkan bahwa ketergantungan yang terlalu besar pada konsorsium swasta tanpa jaminan finansial yang kuat menjadi lubang menganga yang menenggelamkan proyek ini. Berdasarkan informasi dari laman resmi World Bank, pembangunan transportasi berbasis rel memerlukan skema Public-Private Partnership (PPP) yang sangat rigid dan berkelanjutan, sesuatu yang tampaknya goyah saat transisi kepemimpinan di Jakarta terjadi.

Setelah Sutiyoso turun takhta, keberlanjutan proyek ini terus diombang-ambingkan oleh perbedaan visi gubernur selanjutnya. Dari era Fauzi Bowo hingga upaya penghidupan kembali di era Joko Widodo, proyek monorel Jakarta tetap menemui jalan buntu terkait hitung-hitungan nilai kompensasi tiang dan sengketa lahan depo. Kegagalan ini seharusnya menjadi pelajaran berharga dalam pembangunan infrastruktur Jakarta di masa depan, bahwa pembangunan transportasi publik bukan sekadar soal gaya-gayaan teknologi, melainkan tentang ketahanan model bisnis dan kemauan politik yang konsisten.

Bang Yos sendiri bersikeras bahwa langkahnya saat itu sudah benar secara prosedur ilmiah. Pelibatan para pakar dari berbagai universitas ternama menjadi tameng argumentasi bahwa proyek ini bukan keputusan emosional semata. Namun, bagi publik, hasil akhir adalah satu-satunya indikator keberhasilan. Selama tiang-tiang tersebut tidak menopang kereta dan hanya menjadi tempat menempel spanduk liar, maka proyek monorel akan tetap dicatat sebagai salah satu kegagalan perencanaan tata kota paling ikonik di Ibu Kota. Kini, tantangan bagi pemerintah adalah bagaimana memanfaatkan sisa-sisa tiang tersebut agar tidak sekadar menjadi monumen kegagalan masa lalu.


Advertise with Us


Advertise with Us

Back to top button
Cari apa wal?
Om Rudi AI
×
Halo buhan gabut! Handak berita apa wal?

Apa mau tanya berita yang lain atau masalah geopolitik yang lagi ramai tulis aja langsung lah?