Klaim Trump Dipatahkan, Iran Tegaskan Tak Ada Perundingan

KaltimNewsroom.com – Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, menegaskan bahwa negaranya tidak mengadakan perundingan apa pun dengan Amerika Serikat.
Pernyataan ini muncul setelah Presiden Donald Trump mengklaim adanya kemajuan dalam pembicaraan dengan Teheran.
Baghaei menekankan bahwa dalam 24 hari terakhir perang yang dipaksakan, tidak ada dialog atau negosiasi yang terjadi antara Iran dan Washington, seperti dilaporkan oleh kantor berita resmi IRNA.
“Iran tidak mengadakan negosiasi apa pun dengan Amerika Serikat dalam 24 hari terakhir perang yang dipaksakan,” kata Baghaei, seperti dilaporkan kantor berita resmi IRNA.
Klaim Trump ini, yang dibantah oleh Iran, menyoroti ketegangan yang terus berlangsung antara kedua negara dan menimbulkan keraguan mengenai adanya upaya diplomatik di tengah konflik.
Baghaei juga menyatakan bahwa dalam beberapa hari terakhir Iran memang menerima pesan dari AS melalui negara-negara perantara yang dianggap “bersahabat”.
Pesan itu berisi permintaan agar Iran membuka negosiasi guna mengakhiri perang.
Namun, ia menegaskan bahwa Iran merespons pesan tersebut sesuai prinsip yang dipegang negara itu. Termasuk memberikan peringatan keras terkait potensi serangan terhadap infrastruktur vital.
“Iran memperingatkan akan adanya konsekuensi serius jika infrastruktur penting kami diserang,” ujarnya.
Ia juga menegaskan bahwa Iran akan membalas setiap serangan terhadap fasilitas energinya.
“Tindakan apa pun terhadap infrastruktur energi Iran akan kami respons secara tegas, segera, dan efektif oleh angkatan bersenjata Iran,” kata Baghaei.
Selain itu, Iran menegaskan bahwa negara itu mempertahankan sikapnya terkait Selat Hormuz serta syarat penghentian perang tidak berubah.
Klaim Donald Trump
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump menyampaikan bahwa dialog antara Amerika Serikat dan Iran menunjukkan perkembangan positif dan berpotensi membuka kembali Selat Hormuz dalam waktu dekat.
Pernyataan tersebut ia sampaikan saat menjawab pertanyaan wartawan mengenai kondisi terkini jalur pelayaran vital tersebut.
Trump menegaskan bahwa pembukaan Selat Hormuz sangat bergantung pada kelancaran negosiasi yang saat ini tengah berlangsung. Ia menyebut pembicaraan antara kedua pihak menunjukkan sinyal yang menjanjikan.
“Itu akan segera dibuka, jika negosiasi dengan Iran terus berjalan lancar,” kata Trump.
Rencana Pengelolaan Bersama
Trump juga menyampaikan rencana yang tidak biasa terkait pengelolaan selat tersebut di masa depan. Ia mengklaim bahwa Amerika Serikat dan Iran akan berbagi kendali atas Selat Hormuz, terlepas dari siapa yang memimpin Iran ke depan. Pernyataan ini menandai kemungkinan perubahan besar dalam hubungan kedua negara yang selama ini tegang.
“Itu akan dikendalikan bersama,” ucap dia.
Trump kemudian menambahkan pernyataan yang mengundang perhatian publik terkait kepemimpinan Iran. Ia menyebut kemungkinan kerja sama tersebut akan melibatkan pemimpin tertinggi Iran saat ini maupun di masa mendatang.
“Saya dan Ayatollah, siapa pun Ayatollah saat ini, siapa pun Ayatollah berikutnya,” tambahnya.
Isyarat Perubahan Rezim
Selain membahas pembukaan Selat Hormuz, Trump juga menyinggung situasi politik internal Iran. Ia menyatakan bahwa perubahan besar dalam pemerintahan Iran akan segera terjadi, bahkan ia menyebutnya sebagai sesuatu yang hampir pasti.
“Dan juga akan ada perubahan rezim yang sangat serius,” imbuh Trump.
Ia mengaitkan pernyataan tersebut dengan serangan yang terjadi pada dini hari dalam konflik terbaru yang telah menewaskan sejumlah pemimpin senior Iran. Trump menilai peristiwa tersebut akan membawa dampak langsung terhadap struktur kekuasaan di negara tersebut.
“Secara otomatis akan terjadi perubahan rezim,” katanya.
(*)


