Advertise with Us

Nasional

Mendagri Tito Karnavian Apresiasi Peran Swasta dalam Penanganan Bencana di Sumatera

Kaltimnewsroom.com – Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian menyampaikan apresiasi besar kepada pihak swasta yang turun langsung membantu penanganan bencana banjir dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Ia menegaskan bahwa kontribusi swasta sangat nyata di lapangan, meskipun tidak banyak mendapat sorotan media.

Dalam konferensi pers setelah rapat penanganan pascabencana Sumatera di Gedung Sasana Bhakti Praja, Jakarta Pusat, Kamis (15/1), Tito menegaskan bahwa ia banyak bertemu dengan pihak swasta yang bekerja di wilayah terdampak.

“Swasta ini yang dimaksud adalah non-pemerintah, kan? Banyak saya ketemu di sana. Banyak sekali. Mulai dari Dompet Dhuafa, PMI, DMI, NU. Kemudian dari Muhammadiyah. Dari relawan-relawan partai, semua ada di situ,” ungkap Tito.

Ia menambahkan bahwa organisasi masyarakat juga hadir dengan kekuatan penuh.

“Kemudian juga dari organisasi masyarakat, Yayasan Buddha Tzu Chi, Yayasan Artha Graha. Ada juga lembaga-lembaga ormas dari Jawa, Yogyakarta, Surabaya. Banyak sekali ketemu di gunung-gunung. Di Bener Meriah, di Aceh, Aceh Tamiang. Mereka bekerja,” sambungnya.


Advertise with Us

Gotong Royong Jadi Tradisi Indonesia

Tito menekankan bahwa bantuan swasta sangat membantu korban bencana. Ia mengakui bahwa perhatian publik tidak banyak tertuju kepada mereka, tetapi dampak kerja nyata terasa langsung oleh masyarakat. “Dan saya lihat enggak banyak pemberitaan mereka bekerja. Tapi sangat dirasakan membantu rakyat,” ujarnya.

Sebagai perwakilan pemerintah, Tito menyampaikan rasa terima kasih mendalam.

“Saya kira atas nama pemerintah, kami mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya,” ujarnya.


Advertise with Us

Ia menegaskan bahwa semangat gotong royong menjadi bagian dari tradisi bangsa.

“Karena itulah gotong royong, itulah bagian dari tradisi kita, ya. Tanpa perlu banyak bicara tapi membantu. Dan semoga mendapatkan pahala dari Tuhan Yang Mahakuasa,” sambungnya.

Peran Relawan di Lapangan

Di lapangan, relawan dari berbagai organisasi bekerja tanpa henti. Mereka mendistribusikan bantuan, mengevakuasi korban, dan mendirikan posko darurat. Tito menegaskan bahwa ia melihat langsung kerja keras mereka di daerah pegunungan maupun wilayah terdampak banjir. Kehadiran relawan dari berbagai latar belakang, mulai dari lembaga kemanusiaan, organisasi keagamaan, hingga yayasan swasta, menunjukkan solidaritas yang kuat.

Dompet Dhuafa dan PMI, misalnya, aktif menyalurkan bantuan logistik dan layanan kesehatan. NU dan Muhammadiyah menggerakkan jaringan relawan untuk membantu evakuasi dan mendirikan dapur umum. Yayasan Buddha Tzu Chi dan Yayasan Artha Graha juga hadir dengan bantuan makanan, obat-obatan, serta dukungan moral bagi para korban. Relawan partai politik pun ikut turun tangan, menunjukkan bahwa kepedulian terhadap sesama melampaui batas politik.

Solidaritas Nasional

Tito menilai bahwa solidaritas ini mencerminkan kekuatan bangsa Indonesia dalam menghadapi bencana. Ia menekankan bahwa gotong royong bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata yang terus hidup di tengah masyarakat.

“Tanpa perlu banyak bicara tapi membantu,” tegasnya.

Ia berharap semangat ini terus terjaga dan menjadi teladan bagi generasi mendatang. Menurutnya, kerja sama antara pemerintah, swasta, dan masyarakat merupakan kunci utama dalam penanganan bencana. Dengan sinergi tersebut, beban korban dapat lebih ringan, dan proses pemulihan berjalan lebih cepat.

Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan tanah longsor di Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mencapai 1.189 jiwa berdasarkan pemutakhiran data hingga Senin (12/1).

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari di Jakarta, Rabu, mengatakan korban meninggal tersebut terdiri atas 550 jiwa di Aceh, 375 jiwa di Sumatera Utara, dan 231 jiwa di Sumatera Barat, sementara 33 jiwa lainnya masih dalam proses identifikasi.

Selain korban jiwa, BNPB mencatat sebanyak 141 orang dinyatakan hilang dan 195.542 jiwa terpaksa mengungsi. Kabupaten Aceh Utara menjadi wilayah dengan jumlah pengungsi tertinggi mencapai 67.876 jiwa.

(*)


Advertise with Us

Back to top button
Cari apa wal?
Om Rudi AI
×
Halo buhan gabut! Handak berita apa wal?

Apa mau tanya berita yang lain atau masalah geopolitik yang lagi ramai tulis aja langsung lah?