TERKINI
Nasional

Sampurna Berjuang Pulih Usai Terjebak Kebakaran Hutan di Ketapang

Tim medis IAR Indonesia memberikan penanganan darurat kepada Sampurna, orangutan yang menjadi korban asap kebakaran lahan di Ketapang, Kalimantan Barat. (Foto: cnnindonesia.com)

KETAPANG – Tim penyelamat gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan IAR Indonesia berhasil mengevakuasi seekor orangutan jantan dewasa yang terjebak di tengah sisa kebakaran hutan. Satwa yang kemudian diberi nama Sampurna ini ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan di wilayah Ketapang. Penemuan ini kembali mempertegas betapa daruratnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap populasi primata endemik Kalimantan yang kian terhimpit.

Saat proses evakuasi berlangsung, tim medis lapangan melaporkan bahwa Sampurna menunjukkan gejala sesak napas yang akut. Asap tebal dari lahan gambut yang terbakar di sekitar lokasi membuat paru-paru orangutan malang ini terpapar polutan berbahaya. Tim segera memberikan pertolongan pertama berupa oksigen tambahan sebelum membawanya ke pusat rehabilitasi untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut secara intensif.

Kondisi Medis dan Proses Rehabilitasi Intensif

Dokter hewan yang menangani Sampurna mengungkapkan bahwa selain gangguan pernapasan, satwa ini juga mengalami dehidrasi berat dan malnutrisi. Hal ini terjadi karena sumber pakan alami di hutan tersebut telah hangus terbakar, sehingga memaksa Sampurna bertahan hidup tanpa asupan nutrisi yang memadai selama berhari-hari. Tim medis kini fokus pada pemulihan fungsi paru-paru dan stabilisasi berat badan agar Sampurna dapat melewati masa kritisnya.

  • Pemberian terapi inhalasi untuk membersihkan saluran pernapasan dari partikel abu.
  • Pemberian suplemen nutrisi dan vitamin melalui cairan infus.
  • Pemantauan perilaku secara berkala untuk mendeteksi adanya trauma psikologis.
  • Isolasi dari interaksi manusia guna menjaga sifat liar sebelum proses pelepasliaran.

Dampak Karhutla Terhadap Kepunahan Satwa Liar

Fenomena karhutla di Kalimantan bukan sekadar masalah kesehatan bagi manusia, melainkan ancaman eksistensial bagi keanekaragaman hayati. Ketika hutan terbakar, orangutan kehilangan koridor hijau yang mereka gunakan untuk berpindah tempat dan mencari pasangan. Kondisi ini seringkali memaksa mereka masuk ke area perkebunan warga, yang kemudian memicu konflik antara manusia dan satwa liar. Kita perlu menyadari bahwa setiap hektare hutan yang hilang berarti hilangnya rumah bagi ribuan spesies yang saling bergantung dalam ekosistem.

Dalam laporan terbaru mengenai konservasi primata Indonesia, ditekankan bahwa pemulihan habitat gambut menjadi kunci utama mencegah kejadian serupa berulang. Karhutla di lahan gambut sangat sulit dipadamkan karena api merambat di bawah permukaan tanah, menciptakan polusi asap berkepanjangan yang merusak organ pernapasan satwa secara permanen.

Langkah Strategis Mencegah Tragedi Berulang

Penyelamatan Sampurna harus menjadi momentum bagi pemangku kepentingan untuk memperketat pengawasan terhadap pembukaan lahan dengan cara membakar. Sebelumnya, pemerintah telah mengeluarkan regulasi ketat, namun implementasi di lapangan masih memerlukan sinergi yang lebih kuat antara aparat penegak hukum dan masyarakat lokal. Edukasi mengenai bahaya kebakaran lahan harus terus digalakkan, terutama di wilayah-wilayah yang berbatasan langsung dengan habitat orangutan.

Analisis lingkungan menunjukkan bahwa tanpa langkah preventif yang nyata, populasi orangutan di Kalimantan diprediksi akan terus menurun tajam dalam satu dekade ke depan. Perlu ada upaya restorasi hutan yang masif untuk menghubungkan kembali fragmen-fragmen hutan yang terputus akibat kebakaran dan alih fungsi lahan. Kesuksesan rehabilitasi Sampurna nantinya akan menjadi simbol harapan bagi upaya konservasi di Kalimantan Barat yang tak kenal lelah.

Ringkasan Cepat

  • KETAPANG - Tim penyelamat gabungan dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat bersama Yayasan IAR Indonesia berhasil mengevakuasi seekor orangutan…
  • Satwa yang kemudian diberi nama Sampurna ini ditemukan dalam kondisi yang memprihatinkan di wilayah Ketapang.
  • Penemuan ini kembali mempertegas betapa daruratnya ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terhadap populasi primata endemik Kalimantan yang kian terhimpit.
Maya P. Rosalie
Maya P. Rosalie Redaksi Kaltim Newsroom

Jurnalis yang fokus pada isu pemerintahan, pembangunan daerah, dan kemasyarakatan di Kalimantan Timur. Bergabung dengan Kaltim Newsroom sejak 2022.

Lihat Semua Artikel

Baca Juga

Lihat Semua