
KALTIMNEWSROOM.COM — Presiden Iran Masoud Pezeshkian menuding Amerika Serikat (AS) dan Israel sebagai dalang di balik gelombang kerusuhan yang melanda sejumlah kota di Iran dalam beberapa pekan terakhir.
Ia menegaskan, kedua negara tersebut berupaya menciptakan kekacauan dan ketidakstabilan setelah gagal memaksa Iran bertekuk lutut dalam perang 12 hari pada Juni tahun lalu.
Pernyataan itu disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan televisi pemerintah Iran, yang menjadi pernyataan publik pertamanya sejak aksi unjuk rasa terkait memburuknya kondisi ekonomi berubah menjadi kekerasan.
Presiden Iran menilai eskalasi tersebut bukanlah gerakan spontan masyarakat, melainkan bagian dari skenario pihak asing.
Tuduhan Pelibatan Kelompok Terlatih
Pezeshkian menyebut AS dan Israel telah melatih serta mengoordinasikan kelompok-kelompok tertentu, baik di dalam maupun di luar negeri, untuk menyusup ke Iran.
Menurutnya, kelompok tersebut membawa “teroris terlatih” yang kemudian melakukan aksi sabotase dengan menyerang masjid, pasar, dan fasilitas umum lainnya.
“Para pelaku ini bukan demonstran. Mereka terlatih dan melakukan tindakan yang sama sekali tidak mencerminkan sifat rakyat Iran,” ujar Pezeshkian.
Ia menambahkan, sejumlah korban tewas akibat penembakan, pembakaran, dan tindakan kekerasan ekstrem lainnya tidak mungkin dilakukan oleh warga yang menyampaikan aspirasi secara damai.
Pemerintah Klaim Dengarkan Aspirasi Rakyat
Presiden Iran menegaskan bahwa pemerintahannya tidak menutup mata terhadap keluhan masyarakat, terutama terkait tekanan ekonomi yang semakin berat.
Ia mengklaim aparat negara telah berupaya semaksimal mungkin untuk merespons tuntutan rakyat melalui jalur resmi.
“Jika rakyat memiliki kekhawatiran, tugas kami adalah mendengarkan dan menyelesaikannya. Namun kami tidak akan membiarkan sekelompok perusuh menghancurkan keamanan dan ketertiban masyarakat,” tegasnya.
Pezeshkian juga menekankan bahwa para pelaku kekerasan tidak mewakili suara publik.
Menurutnya, unjuk rasa yang sah harus dilakukan untuk kepentingan negara dan masyarakat, bukan untuk menciptakan kehancuran.
Kaitkan Kerusuhan dengan Konflik Regional
Dalam pernyataannya, Pezeshkian mengaitkan situasi terkini dengan kegagalan AS dan Israel dalam melemahkan Iran melalui konflik militer sebelumnya.
Ia menuding kedua negara kini menggunakan cara lain, yakni memicu kerusuhan internal.
“Negara-negara yang sama yang membunuh anak-anak dan warga sipil kini mengaku mendukung rakyat Iran, sambil mendorong kehancuran,” katanya.
Menutup pernyataannya, Pezeshkian mengimbau kaum muda Iran agar tidak terprovokasi oleh pihak-pihak yang ingin memanfaatkan situasi.
Ia juga meminta keluarga untuk menjaga anak-anak mereka agar tidak terjerumus dalam aksi kekerasan.
“Kita harus membedakan antara protes yang sah dan terorisme. Keamanan nasional tidak boleh dikorbankan,” pungkasnya. (*)


