Inovasi SECURE Berau Berhasil Tingkatkan Produksi Udang 15 Persen Melalui Konservasi Mangrove

BERAU – Implementasi teknologi budidaya berkelanjutan melalui pendekatan Shrimp Carbon Aquaculture (SECURE) di Kabupaten Berau menunjukkan hasil yang signifikan. Program kolaborasi antara Dinas Perikanan Kabupaten Berau dengan Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN) ini mencatat kenaikan produksi udang hingga 15 persen dibandingkan metode konvensional. Capaian ini menjadi angin segar bagi sektor perikanan budidaya nasional yang tengah berupaya menyeimbangkan target ekonomi dengan kelestarian ekologi.
Program SECURE mengedepankan model restorasi tambak yang memadukan perlindungan ekosistem mangrove dengan produktivitas tambak. Petani tambak tidak lagi membabat hutan pesisir secara masif, melainkan mengalokasikan sebagian lahan untuk pertumbuhan kembali mangrove. Langkah ini terbukti memperbaiki kualitas air dan menyediakan nutrisi alami bagi komoditas udang, sehingga meminimalisir ketergantungan pada bahan kimia berbahaya.
Keunggulan Metode SECURE dalam Budidaya Udang Berkelanjutan
Metode SECURE mengubah paradigma lama yang menganggap mangrove sebagai penghambat produktivitas. Sebaliknya, vegetasi mangrove berfungsi sebagai filter alami dan benteng perlindungan tambak dari abrasi serta serangan penyakit. Melalui pemetaan lahan yang presisi, para petambak di Berau kini mampu mengoptimalkan sirkulasi air yang lebih sehat.
- Peningkatan kualitas habitat budidaya secara alami melalui filtrasi akar mangrove.
- Reduksi biaya operasional karena berkurangnya kebutuhan pakan buatan dan obat-obatan.
- Peningkatan ketahanan ekosistem pesisir terhadap perubahan iklim dan kenaikan air laut.
- Penciptaan nilai tambah produk udang yang lebih ramah lingkungan untuk pasar ekspor.
Pemerintah daerah setempat memberikan apresiasi tinggi terhadap partisipasi aktif kelompok pembudidaya. Keberhasilan ini memperkuat posisi Berau sebagai salah satu lumbung perikanan di Kalimantan Timur. Selain itu, peningkatan produksi sebesar 15 persen ini memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan ekonomi keluarga petambak di pesisir Berau.
Sinergi Restorasi Mangrove dan Peningkatan Produktivitas
Secara teknis, model SECURE merestorasi sekitar 80 persen dari total area tambak yang sudah tidak produktif untuk menjadi hutan mangrove kembali. Sementara itu, 20 persen sisanya dikelola secara intensif dengan teknologi budidaya yang lebih efisien. Meskipun luasan area produksi berkurang, namun efektivitas dan tingkat kelangsungan hidup (survival rate) udang meningkat drastis.
Keberhasilan di Berau ini sejalan dengan target Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang mendorong implementasi ekonomi biru di seluruh wilayah Indonesia. Integrasi antara konservasi dan produksi menjadi kunci utama agar sektor perikanan tetap berkelanjutan dalam jangka panjang. Pengamat ekonomi perikanan menilai bahwa model ini sangat layak menjadi rujukan nasional bagi daerah lain yang memiliki karakteristik wilayah pesisir serupa.
Analisis Dampak Jangka Panjang bagi Sektor Perikanan
Transisi menuju tambak ramah lingkungan bukan sekadar tren, melainkan kebutuhan mendesak di tengah ancaman degradasi lingkungan. Dalam perspektif jangka panjang, produk udang dari tambak SECURE memiliki daya saing lebih tinggi di pasar internasional, terutama di negara-negara yang menerapkan standar keberlanjutan yang ketat. Artikel ini sekaligus menyambung pembahasan sebelumnya mengenai urgensi digitalisasi tambak, di mana teknologi SECURE dapat disinergikan dengan alat monitoring kualitas air berbasis IoT.
Pemerintah diharapkan terus memperluas jangkauan edukasi dan bantuan teknis bagi para petambak. Dukungan regulasi yang mempermudah akses pasar bagi produk ramah lingkungan akan mempercepat adopsi metode SECURE di tingkat akar rumput. Dengan konsistensi penerapan metode ini, Berau berpotensi menjadi pionir transformasi industri akuakultur hijau di Indonesia yang mandiri dan lestari.


