Rencana Trump Ambil Greenland Picu Reaksi Keras Eropa dan Rusia

Kaltimnewsroom.com – Rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk mengambil alih Greenland dari tangan Denmark menimbulkan kekhawatiran di tingkat internasional, termasuk dari negara-negara Eropa, Rusia, dan Korea Utara, menurut sejumlah pernyataan pejabat dan laporan media.
Beberapa laporan menyebutkan, ketertarikan Trump pada Greenland muncul setelah operasi militer Amerika di Venezuela yang menargetkan Presiden Nicolás Maduro awal tahun ini. Trump dilaporkan menilai Greenland sebagai wilayah strategis untuk pangkalan militer, sekaligus menahan pengaruh Rusia dan China di kawasan Arktik.
“Greenland sangat strategis. Saat ini dipenuhi kapal-kapal Rusia dan China, dan kita membutuhkan Greenland dari sudut pandang keamanan nasional,” kata Trump, dikutip dari sumber media internasional.
Menurut klaim yang beredar, Trump bahkan menawarkan $1,6 miliar kepada penduduk Greenland agar bersedia menjadi bagian dari Amerika Serikat. Dengan populasi sekitar 57.000 jiwa, nilai total pembayaran itu disebut hampir mencapai 101 triliun rupiah. Hingga kini, tawaran tersebut masih merupakan rencana dan belum disepakati oleh pihak Greenland maupun Denmark.
Trump juga dikutip memberikan pernyataan yang bernada ultimatum:
“Saya ingin membuat kesepakatan. Anda tahu, dengan cara yang mudah. Tetapi jika kita tidak melakukannya dengan cara yang mudah, kita akan melakukannya dengan cara yang sulit.”
Reaksi Negara-Negara Eropa
Sebanyak tujuh negara NATO merespons keras rencana Trump tersebut. Denmark menegaskan bahwa Greenland adalah wilayah otonomi dan keputusan mengenai masa depannya hanya dapat ditentukan oleh Denmark dan Greenland sendiri, bukan kekuatan luar.
Pernyataan bersama para pemimpin Denmark, Prancis, Jerman, Italia, Polandia, Spanyol, dan Inggris menyatakan:
“Greenland adalah milik rakyatnya. Hanya Denmark dan Greenland yang berhak memutuskan persoalan yang menyangkut wilayah tersebut. Arctic tetap menjadi prioritas utama bagi Eropa, dan keamanan kawasan harus dicapai secara kolektif bersama sekutu NATO, termasuk Amerika Serikat.”
Para pemimpin Eropa juga menekankan pentingnya penghormatan terhadap kedaulatan, integritas teritorial, dan batas wilayah, serta peningkatan kehadiran militer dan investasi untuk menjaga stabilitas kawasan Arktik.
Ketegangan AS-Rusia
Selain reaksi Eropa, ketegangan juga muncul dengan Rusia. Beberapa waktu lalu, AS dilaporkan menyita kapal tanker milik Rusia yang diduga berafiliasi dengan Venezuela. Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut penyitaan itu sebagai “tindakan militer ilegal dan tidak dapat dibenarkan,” dan mendorong Presiden Vladimir Putin untuk menindaklanjuti.
Menurut laporan media, Putin mempertimbangkan pengiriman kapal selam ke Atlantik Utara sebagai respons strategis terhadap aktivitas militer AS di wilayah tersebut.
Situasi semakin rumit ketika Pemimpin Korea Utara, Kim Jong Un, menyatakan dukungan tanpa syarat kepada Rusia. Dalam surat yang dikutip AFP, Kim menyebut hubungan dengan Putin sebagai “persahabatan sejati” dan menegaskan siap mendukung seluruh kebijakan dan keputusan Rusia secara permanen.
“Pilihan ini bersifat konsisten dan permanen,” tulis Kim. Pernyataan ini menimbulkan perhatian global, mengingat potensi kekuatan militer Korea Utara jika bergabung dengan dukungan Rusia.
Respons Amerika
Meskipun ketegangan meningkat, Trump dilaporkan menegaskan hubungannya dengan Putin tetap baik. Dalam sebuah wawancara, Trump mengatakan:
“Saya tidak berpikir tindakan itu akan diperlukan. Saya selalu memiliki hubungan yang baik dengan dia,” mengacu pada potensi operasi terhadap Rusia.
Situasi ini juga menjadi perhatian internasional lainnya. Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenski, menyinggung operasi AS terhadap Maduro, dan mempertanyakan apakah strategi serupa akan diterapkan terhadap Putin. Trump menjawab, ia tidak melihat perlunya tindakan serupa karena hubungan kedua negara masih stabil.
Para pengamat menilai rencana Trump mengambil Greenland merupakan bagian dari strategi keamanan nasional dan geopolitik AS di Arktik, terutama terkait pengaruh Rusia dan China. Namun, sejumlah pihak menekankan bahwa pendekatan tersebut harus mempertimbangkan kedaulatan Greenland dan Denmark, serta kerja sama multilateral melalui NATO.
Ketegangan antara AS dan Rusia, didukung Korea Utara, menandai potensi konflik lebih luas di kawasan Arktik dan Atlantik Utara. Di sisi lain, tekanan diplomatik Eropa menegaskan pentingnya menjaga stabilitas dan prinsip-prinsip internasional yang diatur PBB.
(*)


