Saat Bill Clinton Hubungi Soeharto karena Rupiah Terpuruk di Tengah Krisis 1998

KALTIMNEWSROOM.COM – Nilai tukar rupiah yang jatuh drastis pada puncak krisis moneter 1998 ternyata sempat membuat Presiden Amerika Serikat Bill Clinton ikut cemas.
Kekhawatiran itu bahkan disampaikan langsung kepada Presiden RI Soeharto melalui sambungan telepon pada Februari 1998.
Percakapan tersebut baru diketahui publik setelah dokumen rahasia kepresidenan Amerika Serikat dibuka pada 2018.
Saat itu, Indonesia sedang menghadapi tekanan ekonomi berat akibat krisis finansial Asia yang membuat rupiah terjun bebas hingga menyentuh kisaran Rp10.000 sampai Rp12.000 per dolar AS.
Menurut catatan Jan Luiten van Zanden dalam buku Ekonomi Indonesia 1800-2010 (2012), sebelum krisis melanda, rupiah relatif stabil di kisaran Rp2.000 per dolar AS. Namun gejolak mata uang Bath Thailand pada pertengahan 1997 memicu efek domino ke berbagai negara Asia, termasuk Indonesia.
Clinton Pantau Langsung Situasi Ekonomi Indonesia saat Rupiah Terpuruk
Dalam pembicaraan tersebut, Clinton mengaku terus mengikuti perkembangan ekonomi Indonesia yang semakin memburuk. Ia menyebut kondisi keuangan Indonesia menjadi perhatian serius pemerintah Amerika Serikat.
“Sejak kita berbicara beberapa minggu lalu, saya mengikuti perkembangan di Indonesia dengan saksama,” ujar Clinton kepada Soeharto.
Krisis yang terjadi kala itu tidak hanya mengguncang sektor keuangan, tetapi juga menyebabkan harga kebutuhan pokok melonjak dan banyak perusahaan berhenti beroperasi.
AS dan IMF Soroti Rencana Currency Board
Salah satu isu yang menjadi perhatian Clinton ialah rencana pemerintah Indonesia menerapkan sistem currency board. Kebijakan tersebut bertujuan menetapkan kurs tetap rupiah terhadap dolar AS.
Namun menurut Clinton, langkah itu berisiko besar terhadap stabilitas ekonomi Indonesia.
Ia mengatakan pemerintah Amerika Serikat bersama International Monetary Fund (IMF) dan negara-negara G-7 menilai kebijakan tersebut dapat memicu kepanikan pasar.
“Hal ini dapat memicu kepanikan yang akan sangat menguras cadangan devisa Indonesia,” ungkap Clinton.
Saat itu, Indonesia memang tengah menjalankan program bantuan IMF setelah menandatangani paket penyelamatan ekonomi pada Oktober 1997. Pada Januari 1998, Indonesia kembali menerima paket bantuan senilai US$43 miliar.
Soeharto Sebut Ekonomi Semakin Berat Disaat Rupiah Terpuruk
Menanggapi Clinton, Soeharto menjelaskan pemerintah Indonesia sebenarnya telah mengikuti berbagai rekomendasi IMF, termasuk reformasi perbankan dan revisi anggaran negara.
Namun menurutnya, kebijakan tersebut belum mampu menghentikan keterpurukan ekonomi nasional.
“Banyak perusahaan berhenti operasi menyebabkan PHK, pengangguran dan kerusuhan,” kata Soeharto.
Ia juga menyebut pemerintah telah mengeluarkan sekitar US$10 miliar dari cadangan devisa untuk mempertahankan nilai tukar rupiah.
Tekanan ekonomi yang terus membesar membuat pemerintah sempat mempertimbangkan currency board sebagai opsi penyelamatan. Meski demikian, rencana tersebut akhirnya tidak jadi diterapkan.
Krisis Ekonomi Berubah Menjadi Krisis Politik
Meski tetap menjalankan program IMF, kondisi Indonesia tidak kunjung membaik. Krisis ekonomi kemudian berkembang menjadi krisis politik nasional.
Gelombang demonstrasi mahasiswa dan tekanan publik akhirnya berujung pada mundurnya Soeharto dari kursi presiden pada 21 Mei 1998.
Belakangan, kebijakan IMF selama penanganan krisis Indonesia juga banyak menuai kritik. Sejumlah ekonom menilai langkah pengetatan fiskal dan moneter yang diterapkan saat itu justru memperburuk kontraksi ekonomi nasional.
(Redaksi)


