Advertise with Us

Internasional

Standar Ganda Donald Trump Dukung Protes di Iran Tapi Kecam Demonstran di Amerika Serikat

MINNEAPOLIS – Pemandangan kontras yang tersaji di layar televisi seluruh dunia belakangan ini telah memicu perdebatan sengit mengenai konsistensi nilai demokrasi yang diusung oleh Gedung Putih. Melalui perbandingan gambar yang tajam antara demonstrasi massa di Minneapolis dan gerakan serupa di Teheran, publik disuguhi pemandangan mengenai bagaimana Presiden Donald Trump memandang hak untuk memprotes secara berbeda tergantung di mana aksi tersebut terjadi dan siapa yang menjadi sasaran kemarahan massa.

Di satu sisi, Trump memberikan dukungan penuh dan retorika yang membakar semangat bagi warga Iran yang turun ke jalan untuk menentang rezim di Teheran. Ia memuji keberanian para demonstran sebagai pejuang kebebasan yang hak-hak dasarnya sedang ditekan. Namun, narasi tersebut berbalik 180 derajat ketika api kerusuhan mulai menjalar di jalanan Amerika Serikat, khususnya setelah kematian George Floyd yang memicu gelombang protes anti-rasialisme besar-besaran.

Ketika aksi massa di Minneapolis meningkat menjadi bentrokan fisik dan penjarahan, Donald Trump tidak menggunakan nada diplomasi atau dukungan terhadap aspirasi warga negaranya sendiri. Sebaliknya, ia melabeli para demonstran dengan sebutan ‘preman’ dan melontarkan ancaman penggunaan kekuatan militer dengan kalimat kontroversial, “ketika penjarahan dimulai, penembakan dimulai.” Perbedaan diksi ini menunjukkan adanya diskoneksi dalam memandang kebebasan berpendapat di dalam dan luar negeri.

Para analis politik internasional mencatat bahwa sikap ini merusak citra Amerika Serikat sebagai ‘suar demokrasi’ dunia. Dalam laporan yang dirilis oleh The New York Times, terlihat jelas bahwa Trump cenderung mendukung protes yang melayani kepentingan geopolitiknya, namun merasa terancam oleh protes yang menantang otoritas domestiknya. Fenomena ini menciptakan paradoks di mana kebebasan sipil dianggap sebagai senjata untuk melemahkan musuh luar negeri, tetapi dipandang sebagai gangguan keamanan nasional jika terjadi di halaman rumah sendiri.

Kritik tidak hanya datang dari aktivis hak asasi manusia, tetapi juga dari lawan politiknya yang menilai bahwa presiden seharusnya menjadi pemersatu bangsa di tengah krisis. Ketimpangan cara pandang ini dikhawatirkan akan memperburuk hubungan politik luar negeri Amerika Serikat dengan negara-negara sekutu yang selama ini menjunjung tinggi hak untuk menyampaikan pendapat tanpa diskriminasi. Di Teheran, Trump mencuitkan dukungannya dalam bahasa Farsi, sementara di Minneapolis, ia mendesak gubernur untuk bertindak lebih keras dalam menindak massa.


Advertise with Us

Secara jurnalisitik, kontras ini mencerminkan tantangan besar dalam kepemimpinan Trump yang seringkali lebih memprioritaskan narasi hukum dan ketertiban (law and order) untuk konstituen domestiknya daripada substansi dari ketidakadilan sosial yang disuarakan. Hingga kini, perpecahan di masyarakat Amerika Serikat terus melebar seiring dengan narasi-narasi yang dianggap provokatif tersebut, menciptakan ujian berat bagi masa depan demokrasi di negara adidaya tersebut.


Advertise with Us

Back to top button
Cari apa wal?
Om Rudi AI
×
Halo buhan gabut! Handak berita apa wal?

Apa mau tanya berita yang lain atau masalah geopolitik yang lagi ramai tulis aja langsung lah?