Advertise with Us

Event

Teater Mahardika SMAN 8 Samarinda Bangkit Lewat Pementasan “RT Nol RW Nol”

KaltimNewsroom.com — Semangat baru dunia seni pelajar kembali terasa lewat pementasan Teater Mahardika SMAN 8 Samarinda yang membawakan karya legendaris RT Nol RW Nol dari Iwan Simatupang.

Pementasan teater ini berlangsung di Taman Budaya Kalimantan Timur pada Minggu malam (26/4/2026) 

Pertunjukan ini sukses mencuri perhatian penonton dengan kualitas produksi yang matang dan penuh penghayatan.

Pementasan ini menjadi penanda kebangkitan kembali aktivitas teater pelajar di sekolah tersebut setelah sempat vakum dalam beberapa waktu.

Naskah RT Nol RW Nol dikenal sebagai karya yang menggambarkan kehidupan masyarakat pinggiran dengan pendekatan absurd, namun tetap menyentuh realitas kehidupan yang dekat dengan keseharian.


Advertise with Us

Totalitas Aktor dan Kekuatan Karakter

Dalam pementasan tersebut, sejumlah siswa tampil memerankan karakter-karakter utama dengan penuh penghayatan. Wahyu memerankan sosok Kakek dengan karakter yang kuat dan penuh emosi, sementara Roji tampil sebagai Pincang dengan gestur tubuh yang meyakinkan. Peran Ani dibawakan oleh Reda, Ina oleh Aji, Bopeng oleh Reyhan, serta Ati yang diperankan oleh Haura. Interaksi antar karakter di atas panggung berhasil membangun suasana yang hidup sekaligus menggugah emosi penonton.

Tak hanya dari sisi akting, pertunjukan ini juga didukung oleh tim produksi yang solid. Penata bunyi dipercayakan kepada Dewo, Baim, Fifi, dan Dipcil yang menghadirkan atmosfer dramatis sepanjang pertunjukan. Tata cahaya digarap oleh Riska dan Inka, yang mampu memperkuat suasana panggung sesuai alur cerita. Sementara itu, penataan artistik dikerjakan oleh Dewo dan Belut, dengan dukungan rias dan kostum dari Besse yang berhasil mempertegas karakter masing-masing tokoh.

Seluruh jalannya pertunjukan dikawal oleh Stage Manager Inka, yang memastikan setiap adegan berjalan sesuai skenario. Kedisiplinan tim produksi terlihat dari transisi antar adegan yang rapi dan minim gangguan teknis, sehingga penonton dapat menikmati alur cerita secara utuh.


Advertise with Us

Sutradara Sekaligus Pemeran

Menariknya, pementasan ini disutradarai langsung oleh Haura, yang juga turut berperan sebagai salah satu aktor. Di bawah arahannya, pertunjukan mampu menghadirkan dinamika emosi yang kuat serta penyampaian pesan yang mendalam. Ia berhasil menerjemahkan naskah yang kompleks menjadi tontonan yang komunikatif, tanpa menghilangkan esensi absurd yang menjadi ciri khas karya tersebut.

Pementasan RT Nol RW Nol bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media refleksi sosial. Melalui karakter-karakter yang ditampilkan, penonton diajak memahami realitas kehidupan masyarakat yang terpinggirkan, sekaligus merenungkan makna keberadaan manusia dalam kehidupan sosial yang penuh keterbatasan.

“Pertunjukannya cukup kuat secara pesan dan penyampaian. Saya melihat para pemain mampu menghidupkan karakter dengan baik, apalagi ini karya yang memang tidak mudah untuk dibawakan,” ujar Ardi, salah satu penonton.

Apresiasi dan Harapan Pengembangan

Ia juga mengapresiasi kembalinya Teater Mahardika ke panggung setelah vakum cukup lama. “Yang paling patut diapresiasi, Teater Mahardika akhirnya kembali pentas setelah kurang lebih tujuh tahun. Ini bukan hal mudah, apalagi menjaga konsistensi di dunia teater pelajar,” tambahnya.

Namun demikian, Ardi menilai keberlangsungan teater di kalangan pelajar perlu mendapat dukungan lebih serius dari berbagai pihak. Menurutnya, pembinaan berkelanjutan sangat dibutuhkan agar potensi generasi muda di bidang seni pertunjukan dapat berkembang lebih optimal.

“Ke depan, perlu ada pembinaan yang lebih kuat, baik dari pemerintah maupun para praktisi seni teater. Ini penting untuk memperkuat literasi kesenian, khususnya teater, agar terus hidup dan berkembang di kalangan generasi muda,” tutupnya.

Sementara itu, penonton lainnya, Fajri, turut memberikan catatan terhadap jalannya pertunjukan, khususnya dari sisi teknis dan kualitas penyampaian dialog. Ia menilai para aktor dan kru telah berusaha maksimal, meski masih dihadapkan pada keterbatasan fasilitas gedung pertunjukan.

“Para aktor dan juga kru sebenarnya sudah berusaha maksimal. Tapi memang perlu kemampuan untuk menyiasati kondisi gedung pertunjukan yang kurang representatif, baik dari sisi akustik maupun tata panggung,” ujarnya.

Ia juga menyoroti aspek artikulasi para pemain yang dinilai masih perlu diperbaiki agar pesan dalam naskah dapat tersampaikan dengan lebih jelas kepada penonton. “Tadi ada beberapa bagian dialog yang diucapkan terlalu cepat, sehingga suara kurang jelas terdengar. Ini membuat makna dari naskah tidak sepenuhnya sampai ke penonton,” jelasnya.

Meski demikian, Fajri tetap memberikan apresiasi terhadap semangat dan konsistensi para pelajar dalam menekuni dunia teater.

“Terlepas dari kekurangan yang ada, saya sangat mengapresiasi para pelajar ini. Mereka menunjukkan konsistensi dalam belajar teater, dan itu hal yang tidak mudah di tengah perkembangan zaman saat ini,” tutupnya.

(*)


Advertise with Us

Back to top button