BEIJING – Kematian Zhu Rongji memicu gelombang nostalgia sekaligus kritik tajam terhadap arah kebijakan ekonomi Tiongkok saat ini. Upacara penghormatan terakhir bagi mantan Perdana Menteri yang dikenal sebagai ‘Iron-Faced Premier’ ini bukan sekadar seremoni kenegaraan biasa. Bagi banyak warga, momen ini menjadi cermin retak yang membandingkan kejayaan era reformasi masa lalu dengan ketidakpastian masa depan di bawah kepemimpinan saat ini. Beijing berusaha keras menampilkan citra bahwa Tiongkok hari ini merupakan kelanjutan dari visi pertumbuhan Zhu, namun masyarakat merasakan sentimen yang jauh berbeda.
Zhu Rongji memimpin Tiongkok melalui transformasi menyakitkan namun krusial pada akhir 1990-an dan awal 2000-an. Keputusannya merampingkan sektor negara dan membawa Tiongkok masuk ke dalam Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) meletakkan fondasi bagi ledakan ekonomi selama dua dekade. Namun, antusiasme masyarakat yang meluap pada masa itu kini telah berubah menjadi skeptisisme yang mendalam akibat pengetatan kontrol negara dan melambatnya pertumbuhan GDP.
Warisan Transformasi Ekonomi dan Keterbukaan
Selama masa jabatannya, Zhu Rongji tidak segan mengambil langkah-langkah tidak populer demi efisiensi nasional. Ia memaksa ribuan perusahaan negara yang tidak efisien untuk tutup atau melakukan privatisasi, sebuah langkah yang meskipun menyakitkan bagi jutaan pekerja, berhasil menciptakan ekosistem sektor swasta yang dinamis. Berikut adalah poin-poin utama warisan kebijakan Zhu yang kini dirindukan publik:
- Integrasi penuh ekonomi Tiongkok ke dalam pasar global melalui keanggotaan WTO.
- Reformasi sistem perbankan yang membersihkan kredit macet dan memperkuat cadangan devisa.
- Pengurangan birokrasi pemerintahan yang masif untuk mempercepat izin usaha swasta.
- Penegakan hukum yang keras terhadap korupsi pejabat publik tanpa pandang bulu.
Langkah-langkah berani tersebut menciptakan sebuah era di mana kelas menengah Tiongkok tumbuh dengan keyakinan bahwa kehidupan mereka akan terus membaik setiap tahunnya. Sebaliknya, pembaca dapat membandingkan situasi ini dengan laporan mengenai tantangan struktural ekonomi China saat ini yang menunjukkan tren penurunan investasi asing dan tingginya angka pengangguran pemuda.
Pergeseran Paradigma dari Pasar Menuju Kontrol Negara
Kritikus berpendapat bahwa pemerintah pusat saat ini mulai meninggalkan prinsip-prinsip pasar yang Zhu perjuangkan. Jika Zhu menekankan pada desentralisasi dan penguatan sektor swasta, kebijakan saat ini justru terlihat lebih mengutamakan dominasi perusahaan milik negara (BUMN) dan pengawasan ketat terhadap raksasa teknologi. Peralihan ini menciptakan iklim usaha yang lebih kaku dan mematikan inovasi di tingkat akar rumput.
Banyak pengamat politik internasional mencatat bahwa Beijing sengaja memoles narasi pemakaman Zhu untuk melegitimasi kebijakan saat ini sebagai bentuk ‘evolusi’ dari reformasi masa lalu. Namun, narasi tersebut sulit diterima oleh generasi muda yang menghadapi persaingan kerja yang brutal dan harga properti yang tidak terjangkau. Optimisme yang dulu menjadi bahan bakar penggerak bangsa kini tampak mulai memudar, digantikan oleh budaya ‘lying flat’ atau sikap apatis terhadap ambisi ekonomi pemerintah.
Kepergian Zhu Rongji akhirnya menyisakan pertanyaan besar bagi masa depan Tiongkok. Apakah pemerintah akan kembali ke jalur keterbukaan yang radikal, atau justru semakin memperketat kendali demi stabilitas politik? Analisis mendalam mengenai sejarah reformasi ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan ekonomi Tiongkok di masa lalu tidak datang dari kontrol yang ketat, melainkan dari keberanian untuk melepaskan kendali negara dan mempercayai kekuatan pasar global.






