
KALTIMNEWSROOM.COM – Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah Inggris mengerahkan kapal perang HMS Dragon ke kawasan tersebut.
Langkah ini dilakukan sebagai bagian dari persiapan pembentukan koalisi multinasional untuk mengamankan jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz.
Pemerintah Inggris menegaskan bahwa pengerahan kapal perusak pertahanan udara itu merupakan langkah antisipatif di tengah konflik berkepanjangan antara Amerika Serikat dan Iran yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
HMS Dragon sebelumnya bertugas di Mediterania Timur sejak Maret 2026 untuk melindungi Siprus, sebelum kini dialihkan ke Timur Tengah.
Seorang juru bicara Kementerian Pertahanan Inggris menyatakan bahwa langkah tersebut merupakan bagian dari strategi jangka panjang.
“Penempatan awal HMS Dragon adalah bagian dari perencanaan yang bijaksana yang akan memastikan bahwa Inggris siap, sebagai bagian dari koalisi multinasional yang dipimpin bersama oleh Inggris dan Prancis, untuk mengamankan Selat Hormuz ketika kondisi memungkinkan,” ujarnya, dikutip dari Reuters, Minggu (10/5/2026).
Prancis Ikut Perkuat Kehadiran Militer di Kawasan
Selain Inggris, Prancis juga memperkuat kehadiran militernya dengan mengerahkan kelompok kapal induk ke wilayah Laut Merah bagian selatan.
Kedua negara tersebut kini bekerja sama dalam penyusunan rencana pengamanan jalur perdagangan internasional yang melewati Selat Hormuz.
Pejabat pertahanan Eropa menyebut bahwa rencana ini tidak hanya berfokus pada aspek militer, tetapi juga pada pemulihan kepercayaan pelayaran global yang sempat terganggu akibat eskalasi konflik.
Inggris dan Prancis mendorong pembentukan koalisi multinasional yang melibatkan sejumlah negara untuk menjaga stabilitas jalur energi dunia.
Lebih dari belasan negara dilaporkan telah menyatakan minat untuk bergabung dalam inisiatif tersebut, meskipun koordinasi dengan Iran masih menjadi tantangan utama.
Seorang diplomat Eropa yang terlibat dalam pembahasan mengatakan bahwa misi ini bertujuan murni defensif.
“Kami ingin memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga tanpa memperluas konflik yang sudah berlangsung,” katanya.
Keterbatasan Kapasitas Angkatan Laut Inggris
Namun, analis pertahanan menyoroti keterbatasan kemampuan Angkatan Laut Kerajaan Inggris dalam menjalankan misi jangka panjang.
Armada Inggris saat ini dinilai lebih kecil dibandingkan dekade sebelumnya, sehingga menghadapi tantangan dalam menjaga keberlanjutan operasi di beberapa wilayah sekaligus.
Meski demikian, pemerintah Inggris tetap menegaskan komitmennya untuk berperan aktif dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah, terutama di jalur perdagangan vital dunia seperti Selat Hormuz. (*)

