MATARAM — Kebakaran Gunung Rinjani yang melanda kawasan konservasi di Nusa Tenggara Barat, kini kian mengkhawatirkan karena wilayah yang terdampak telah meluas secara signifikan hingga ratusan hektare. Peristiwa ini memicu keprihatinan mendalam dari berbagai pihak karena mengancam kelestarian ekosistem flora dan fauna endemik yang dilindungi di dalam kawasan taman nasional tersebut.
Sementara itu, berdasarkan data terbaru dari otoritas berwenang, total luas area hutan dan lahan yang dilalap si jago merah telah mencapai 977,74 hektare. Oleh karena itu, eskalasi darurat ini menuntut respons cepat dan terpadu dari berbagai unsur satuan tugas penanggulangan bencana guna mencegah perluasan kerusakan yang lebih parah di kawasan wisata pendakian populer ini.
Kendala Medan Ekstrem dalam Penanganan Kebakaran Gunung Rinjani
Dalam upaya menjinakkan api, tim gabungan di lapangan harus menghadapi berbagai tantangan alam yang sangat berat dan berbahaya. Selain titik api yang tersebar di beberapa lokasi, kondisi topografi yang curam menjadi hambatan utama bagi personel yang diterjunkan ke titik lokasi bencana.
Berikut adalah sejumlah hambatan utama yang dihadapi oleh petugas gabungan di lapangan:
- Medan perbukitan yang terjal serta tebing curam menyulitkan mobilitas personel.
- Akses jalan darat menuju pusat titik api tidak dapat dilalui oleh kendaraan taktis pemadam.
- Sumber air yang sangat terbatas di sekitar lokasi kejadian membuat proses pemadaman manual menjadi tidak efektif.
- Tiupan angin kencang di puncak gunung sering kali mengubah arah rambatan api secara tiba-tiba.
Strategi Lanjutan Tim Gabungan Padamkan Lahan
Meskipun dihadapkan pada situasi yang sangat pelik, tim gabungan yang terdiri dari polhut, relawan, TNI, dan Polri terus berupaya maksimal memadamkan api. Selain menggunakan cara manual seperti pembuatan sekat bakar, koordinasi intensif terus dilakukan untuk memetakan potensi perluasan titik api baru di kawasan tersebut.
Selain itu, pihak Balai Taman Nasional Gunung Rinjani mengimbau kepada seluruh masyarakat serta para pelaku wisata agar tetap tenang namun waspada terhadap perkembangan situasi darurat ini. Evaluasi berkala akan terus dilakukan demi memastikan keselamatan seluruh petugas di lapangan sekaligus meminimalisasi dampak kerusakan lingkungan jangka panjang.






