Pasar Pagi Samarinda Masih Sepi, DPRD Dorong Evaluasi Konsep Perdagangan

KALTIMNEWSROOM.COM – Bangunan baru Pasar Pagi Samarinda belum mampu menarik aktivitas perdagangan seperti yang diharapkan. Meski tampil lebih modern dan estetik, sejumlah kios masih kosong dan aktivitas jual beli belum ramai.
Kondisi tersebut membuat DPRD Kota Samarinda mendorong pemerintah mengevaluasi konsep perdagangan di pasar tersebut. Ketua Komisi II DPRD Samarinda Iswandi menilai modernisasi bangunan belum cukup untuk menjadikan Pasar Pagi sebagai pusat perputaran ekonomi.
“Masalah yang menjadi persoalan sulit para pedagang yakni mereka mengeluhkan bahwa penjualan masih sepi dan perekonomian belum berputar antara modal dan pendapatan,” kata Iswandi, Minggu (23/8/2026).
DPRD Samarinda Siapkan Pembahasan Bersama OPD
Iswandi mengatakan Komisi II DPRD Samarinda akan segera membahas persoalan tersebut bersama organisasi perangkat daerah (OPD) terkait. Pembahasan itu bertujuan mencari strategi agar aktivitas perdagangan di Pasar Pagi kembali bergairah.
Menurutnya, pemerintah harus memprioritaskan upaya menarik kembali masyarakat untuk berbelanja di Pasar Pagi. Dengan begitu, pedagang memiliki peluang meningkatkan penjualan dan memutar kembali modal usaha mereka.
“Kita telah sampaikan itu ke Dinas Perdagangan Samarinda bahwa fungsi perdagangan tidak berjalan,” ujar Iswandi.
Ia menilai pemerintah perlu melihat kembali konsep Pasar Pagi secara menyeluruh. Sebab, bangunan yang modern tidak otomatis membuat masyarakat datang jika konsep perdagangan tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen.
Konsep Pasar Pagi Perlu Disesuaikan
Untuk mencari solusi, Komisi II DPRD Samarinda berencana menggelar forum group discussion (FGD). DPRD akan melibatkan berbagai pihak, mulai dari akademisi hingga penggiat ekonomi kreatif.
Forum tersebut nantinya diharapkan menghasilkan konsep perdagangan yang lebih sesuai dengan karakter bangunan dan masyarakat Samarinda.
Iswandi mengatakan pemerintah tidak harus mempertahankan seluruh area Pasar Pagi dengan konsep pasar tradisional. Beberapa bagian gedung dapat memiliki fungsi berbeda untuk menarik lebih banyak pengunjung.
“Misalnya lantai bawah tidak lagi hanya untuk dagangan basah, tetapi bisa untuk menjual kue, kuliner, atau dibuat kafe. Itu perlu dikaji,” jelasnya.
Pedagang Harus Terlibat dalam Evaluasi
Selain akademisi dan pelaku ekonomi kreatif, DPRD juga ingin mendengar langsung masukan dari para pedagang. Menurut Iswandi, suara pedagang penting karena mereka menjadi pihak yang merasakan langsung kondisi perdagangan di Pasar Pagi.
Pemerintah juga perlu mempertimbangkan kultur sosial masyarakat Samarinda ketika menyusun konsep baru. Selain itu, kemampuan anggaran daerah harus menjadi bagian dari pertimbangan sebelum pemerintah menjalankan perubahan.
“Kita harus mendengar dari pedagang, praktisi, dan penggiat ekonomi kreatif serta pihak lainnya. Kita tentunya juga tidak ingin mengubah sesuatu tetapi malah menimbulkan masalah baru,” pungkas Iswandi.
Dengan evaluasi tersebut, DPRD berharap Pasar Pagi Samarinda tidak hanya memiliki bangunan yang modern, tetapi juga mampu kembali menjadi pusat perdagangan dan penggerak ekonomi masyarakat.
(Adv)


