KUPANG – Upaya pemulihan pascabencana alam tidak hanya berkutat pada pembangunan infrastruktur fisik semata, tetapi juga menyentuh aspek psikologis para penyintas. Anggota DPR RI, Pinka Haprani, menunjukkan kepedulian mendalam terhadap kondisi mental generasi muda dengan menyambangi langsung anak-anak korban gempa di Nusa Tenggara Timur (NTT). Kehadiran putri dari Ketua DPR RI Puan Maharani ini bertujuan utama untuk memberikan layanan trauma healing guna mengembalikan keceriaan anak-anak yang sempat hilang akibat guncangan bencana.
Langkah ini menjadi krusial mengingat anak-anak merupakan kelompok paling rentan mengalami gangguan stres pascatrauma (PTSD) setelah menghadapi peristiwa traumatis. Pinka Haprani berinteraksi secara aktif, mengajak mereka bermain, bercerita, dan memberikan motivasi agar tetap semangat menatap masa depan. Kegiatan ini sekaligus mempertegas bahwa kehadiran negara melalui wakil rakyat harus menyentuh sisi kemanusiaan yang paling mendasar, yakni kesehatan mental.
Urgensi Trauma Healing dalam Pemulihan Pascabencana
Pakar psikologi seringkali menekankan bahwa luka batin akibat bencana sering kali lebih sulit sembuh daripada luka fisik. Tanpa penanganan yang tepat, memori kelam mengenai gempa dapat menghambat tumbuh kembang dan produktivitas anak di masa depan. Pinka Haprani memahami urgensi ini dan menjadikan program dukungan psikososial sebagai agenda prioritas dalam kunjungannya ke wilayah terdampak.
- Mencegah Dampak Jangka Panjang: Intervensi dini membantu anak memproses emosi negatif agar tidak berkembang menjadi depresi kronis.
- Mengembalikan Rasa Aman: Kehadiran figur publik yang peduli memberikan sinyal bahwa lingkungan mereka kembali stabil dan aman.
- Stimulasi Keceriaan: Aktivitas bermain yang terarah berfungsi sebagai katarsis bagi rasa takut yang terpendam.
- Edukasi Kesiapsiagaan: Melalui metode bermain, anak-anak juga belajar cara menyelamatkan diri tanpa rasa panik yang berlebihan.
Aksi Nyata Pinka Haprani dan Sinergi Pemulihan NTT
Dalam kunjungannya, Pinka tidak hanya membawa bantuan logistik, tetapi juga membawa semangat pemulihan yang kolektif. Ia menggandeng relawan lokal dan tenaga ahli untuk memastikan proses trauma healing berjalan efektif dan berkelanjutan. Pinka menegaskan bahwa pemulihan NTT harus dilakukan secara komprehensif, menghubungkan antara kebijakan pusat dengan kebutuhan riil masyarakat di daerah.
Kunjungan ini mengingatkan kita pada protokol standar penanganan bencana yang dikeluarkan oleh BNPB, di mana pemulihan psikososial merupakan bagian tak terpisahkan dari fase rehabilitasi. Pinka berharap langkah kecil ini mampu memicu gerakan yang lebih besar dari berbagai elemen masyarakat untuk saling bahu-membahu membantu NTT bangkit kembali. Upaya ini selaras dengan program kemanusiaan yang sebelumnya sering dilakukan oleh PDIP sebagai partai pengusungnya dalam menangani berbagai krisis nasional.
Membangun Ketahanan Mental Anak di Wilayah Rawan Bencana
Pemerintah daerah dan pusat perlu merumuskan kurikulum tanggap bencana yang menyertakan aspek ketahanan mental. Pinka Haprani menyatakan bahwa keterlibatan aktif semua pihak akan mempercepat proses normalisasi kehidupan di NTT. Ia juga mengapresiasi ketangguhan warga lokal yang tetap bertahan di tengah keterbatasan. Melalui pemulihan psikologis yang intensif, kita berharap anak-anak NTT tidak hanya sembuh dari trauma, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih tangguh.
Sebagai analisis tambahan, tindakan Pinka Haprani ini menunjukkan gaya kepemimpinan muda yang lebih empatik dan turun ke bawah (turba). Hal ini menjadi modal penting bagi keberlanjutan regenerasi kepemimpinan nasional yang tidak hanya cerdas secara politik, tetapi juga memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Dengan dukungan yang tepat, NTT pasti mampu melalui masa sulit ini dan mencetak generasi emas yang bebas dari bayang-bayang trauma masa lalu.






