JAKARTA – Wakapolri Komjen Dedi Prasetyo memberikan arahan tegas sekaligus edukatif kepada 282 calon perwira remaja (Capaja) Polri tahun 2024. Mewakili Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Dedi menekankan bahwa pangkat tinggi di pundak bukanlah alasan untuk menutup telinga dari masukan bawahan. Ia meminta para perwira muda ini untuk menanggalkan ego sektoral dan tidak gengsi menimba ilmu dari anggota yang memiliki pangkat lebih rendah maupun senior di lapangan.
Pesan ini muncul sebagai respons terhadap tantangan dinamika kepolisian yang semakin kompleks. Menurut Dedi, kecerdasan akademik selama di pendidikan hanyalah fondasi awal. Realitas di lapangan seringkali menuntut kebijaksanaan yang hanya bisa diperoleh melalui pengalaman bertahun-tahun, yang biasanya dimiliki oleh para bintara senior. Oleh karena itu, kerendahan hati menjadi modal utama bagi seorang perwira untuk memimpin dengan efektif dan humanis.
Menanggalkan Ego Demi Integritas Institusi
Komjen Dedi Prasetyo menjelaskan bahwa transisi dari dunia pendidikan ke dunia kerja nyata memerlukan adaptasi mental yang kuat. Perwira remaja seringkali terjebak dalam rasa bangga berlebih yang justru menghambat proses belajar mereka di kesatuan baru. Padahal, sinergi antara pimpinan dan bawahan merupakan kunci keberhasilan tugas operasional kepolisian.
- Keterbukaan Pikiran: Mengakui bahwa pengalaman lapangan bawahan sangat berharga.
- Komunikasi Dua Arah: Membangun dialog yang sehat antara perwira dan bintara.
- Adaptasi Cepat: Memahami karakteristik wilayah tugas melalui informasi dari personil lokal.
- Integritas Kepemimpinan: Menjadi teladan dengan sikap yang mau mendengar.
Pentingnya Magang dan Pengalaman Lapangan
Instruksi ini sejalan dengan upaya Polri untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia yang unggul dan kompetitif. Dedi menginstruksikan para Capaja agar memanfaatkan masa awal penugasan sebagai fase ‘magang’ kehidupan. Mereka harus aktif bertanya mengenai prosedur taktis yang mungkin tidak sedalam itu dibahas di bangku akademi namun sangat krusial saat menghadapi masyarakat langsung.
Selain itu, hubungan yang harmonis dengan senior akan membantu perwira muda dalam memetakan potensi konflik di wilayahnya. Hal ini selaras dengan visi Polri Presisi yang mengedepankan prediktivitas dan transparansi berkeadilan. Keberhasilan seorang perwira bukan hanya diukur dari perintah yang dipatuhi, melainkan dari seberapa besar ia mampu mengayomi anggotanya sendiri sebelum mengayomi masyarakat luas.
Analisis: Transformasi Budaya Kepemimpinan Polri
Secara kritis, pernyataan Wakapolri ini merupakan bagian dari upaya dekonstruksi budaya feodal yang terkadang masih tersisa di institusi penegak hukum. Kepemimpinan modern tidak lagi bersifat top-down secara kaku, melainkan lebih kolaboratif. Dengan meminta Capaja belajar dari pangkat yang lebih rendah, Polri sedang menyuntikkan nilai-nilai kesetaraan dalam profesionalisme.
Artikel ini juga mengingatkan kembali pada proses pelantikan perwira tahun sebelumnya, di mana penekanan pada moralitas selalu menjadi poin utama. Perwira remaja adalah wajah masa depan Polri. Jika mereka memulai karier dengan sikap sombong, maka potensi penyalahgunaan wewenang akan semakin besar. Sebaliknya, pemimpin yang mau belajar dari bawah cenderung lebih empati dan mampu mengambil keputusan yang lebih adil dalam situasi krisis.
Ke depannya, tantangan seperti kejahatan siber dan konflik sosial memerlukan kecerdasan kolektif. Seorang perwira yang mampu merangkul seluruh potensi anggotanya, terlepas dari strata pangkat, akan jauh lebih sukses membawa kesatuannya mencapai target organisasi. Wejangan Komjen Dedi Prasetyo ini diharapkan menjadi pegangan abadi bagi 282 Capaja dalam meniti pengabdian bagi bangsa dan negara.





