PALANGKA RAYA – Polda Kalimantan Tengah memperkuat strategi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan mengadopsi teknologi terbaru berupa cairan surfaktan nabati. Langkah ini menjadi respons cepat kepolisian dalam memitigasi penyebaran api yang kerap menghanguskan lahan gambut di wilayah Palangka Raya. Petugas menguji coba keampuhan cairan tersebut saat memadamkan kobaran api di kawasan Jalan Petuk Katimpun, Kelurahan Petuk Katimpun, Kecamatan Jekan Raya.
Cairan inovatif ini merupakan hasil riset mendalam dari Bidang Laboratorium Forensik (Bidlabfor) Polda Kalimantan Selatan. Penggunaan bahan dasar nabati menjamin operasional pemadaman tetap selaras dengan prinsip pelestarian lingkungan. Teknik ini berbeda dengan pemadaman konvensional menggunakan air murni, karena surfaktan memiliki kemampuan khusus untuk menurunkan tegangan permukaan air sehingga mampu meresap lebih dalam ke pori-pori lahan gambut yang kering.
Keunggulan Surfaktan Nabati dalam Pemadaman Lahan Gambut
Lahan gambut di Kalimantan Tengah memiliki karakteristik unik yang sulit padam jika api sudah merambat ke bawah permukaan (ground fire). Inovasi surfaktan nabati ini hadir sebagai solusi atas keterbatasan pemadaman air biasa yang seringkali hanya membasahi bagian atas permukaan saja. Dengan formula khusus, cairan ini mampu mengikat molekul air agar tidak cepat menguap akibat panas ekstrem.
- Daya Serap Tinggi: Cairan ini mempercepat proses infiltrasi air ke dalam lapisan gambut terdalam untuk mematikan bara api yang tersembunyi.
- Efisien Penggunaan Air: Petugas tidak memerlukan volume air yang masif karena konsentrat surfaktan meningkatkan efektivitas setiap liter air yang disemprotkan.
- Ramah Lingkungan: Kandungan bahan organik memastikan tidak ada residu kimia berbahaya yang mencemari ekosistem tanah atau sumber air warga.
- Mencegah Re-ignisi: Sifat cairan yang menetap di lapisan tanah membantu mencegah munculnya kembali titik api (hotspot) di lokasi yang sama.
Kolaborasi Strategis Antar Polda di Kalimantan
Penggunaan produk buatan Bidlabfor Polda Kalsel oleh Polda Kalteng mencerminkan kolaborasi yang solid antar wilayah dalam menghadapi ancaman tahunan kabut asap. Kerja sama ini membuktikan bahwa inovasi internal Polri dapat diaplikasikan secara nyata untuk kepentingan masyarakat luas. Personel di lapangan melaporkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk mendinginkan area bekas terbakar menjadi jauh lebih singkat sejak menerapkan metode ini.
Kepolisian juga terus melakukan evaluasi rutin terhadap efektivitas penggunaan surfaktan ini di berbagai tipe medan lahan. Selain fokus pada pemadaman, Polda Kalteng secara konsisten mengingatkan masyarakat agar tidak membuka lahan dengan cara membakar. Anda dapat memantau titik koordinat api secara real-time melalui sistem Sipongi dari Kementerian LHK sebagai referensi kewaspadaan dini.
Analisis dan Mitigasi Jangka Panjang Karhutla
Melihat efektivitas yang dihasilkan, teknologi surfaktan nabati ini berpotensi menjadi standar baru dalam standar operasional prosedur (SOP) penanganan karhutla di masa depan. Namun, teknologi semata tidak akan cukup tanpa adanya kesadaran kolektif. Pihak berwenang harus terus mensinergikan inovasi teknologi dengan penegakan hukum yang tegas terhadap oknum pembakar lahan.
Upaya ini selaras dengan program berkelanjutan pemerintah dalam menjaga paru-paru dunia yang tersisa di Kalimantan. Integrasi antara penggunaan bahan ramah lingkungan dan patroli rutin menjadi kunci utama agar langit Kalimantan tetap biru dan bebas dari polusi asap yang merugikan kesehatan serta ekonomi nasional.






