Rohim mengatakan peran ayah tidak cukup hanya sebagai pencari nafkah. Anak juga membutuhkan pendampingan, perhatian, dan keteladanan selama proses tumbuh kembang.
“Yang paling penting justru adalah kehadiran. Indonesia punya salah satu persoalan, yaitu fatherless. Banyak anak merasa kehilangan eksistensi ayahnya dalam kehidupan mereka,” ujarnya, Kamis (23/7/2026).
Hari Anak Nasional Jadi Momentum Introspeksi Orang Tua
Menurut Rohim, peringatan Hari Anak Nasional (HAN) seharusnya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia berharap momentum tersebut menjadi pengingat bagi setiap keluarga untuk memperkuat pola pengasuhan di rumah.
Ia menilai orang tua perlu mengubah cara pandang terhadap anak. Anak bukan beban keluarga, melainkan aset berharga yang akan menentukan masa depan bangsa.
“Kadang-kadang ada orang tua yang memandang anak itu sebagai beban. Padahal anak itu adalah aset yang harus kita jaga dan tumbuh kembangkan,” katanya.
Anak Menjadi Penentu Masa Depan Bangsa
Rohim menjelaskan kualitas generasi mendatang sangat bergantung pada pola asuh yang diterapkan orang tua sejak dini. Menurutnya, anak-anak saat ini kelak akan mengambil alih berbagai peran penting di tengah masyarakat.
“Merekalah yang nanti akan menggantikan peran-peran orang tua yang ada saat ini,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan bahwa pendidikan dan pemenuhan kebutuhan materi saja tidak cukup. Orang tua juga harus memberikan perhatian emosional agar anak tumbuh dengan karakter yang kuat dan percaya diri.
Pengasuhan yang Baik Ciptakan Generasi Berkualitas
Rohim berharap setiap keluarga memanfaatkan momentum Hari Anak Nasional untuk mempererat hubungan dengan anak melalui perhatian, kasih sayang, dan komunikasi yang lebih intens.
Menurutnya, pengasuhan yang optimal akan melahirkan generasi yang berkualitas, berkarakter, serta mampu berkontribusi bagi pembangunan Kota Samarinda, Kalimantan Timur, maupun Indonesia pada masa mendatang.
(Adv)






